Terjemahan dari artikel di majalah mingguan populer keluarta Eigen haard; geïllustreerd volkstijdschrift, 7 Juli 1928. Ditulis oleh M.O.W., dengan judul Naar den Papandajankrater bij Garoet. Tulisan ini menggambarkan kunjungan wisata ke kompleks kawah G. Papandayan, pada masa kolonial. Tulisan tersebut menggambarkan aktivitas wisata mengunjungi kompleks kawah G. Papandayan pada masa kolonial. Melalui jalur Cisurupan, dengan menunggangi kuda. Wisata populer, pada masa kejayaan pariwisata di Garut, priangan timur.
Pukul enam pagi, kami berangkat dengan mobil dari Hotel Ngamplang. Sarapan yang lezat telah disiapkan di dalam mobil Buick, dan, puas dengan ciptaan agung-Nya di wilayah ini, Tuhan Allah telah menghadirkan fajar yang keemasan. Dengan segar, kami melaju di antara sawah-sawah dan kampung-kampung yang sepi melalui jalan aspal yang mulus menuju Hotel Cisurupan, yang terletak di kaki Gunung Papandayan, tempat perjalanan akan dilanjutkan dengan menunggang kuda. Di kiri dan kanan, kami terus disuguhi panorama yang megah: lereng-lereng gunung yang ditata secara jenius dalam bentuk terasering, ratusan sawah dengan garis-garis tanah liat yang anggun—dirancang dalam kesatuan artistik yang indah—serta celah-celah hutan yang menawan di antaranya. Betapa halus dan tanpa disadari orang Jawa mengolah tanahnya! Betapa menakjubkannya pula bagaimana keseluruhan unsur-unsur yang berbeda ini menyatu menjadi sebuah harmoni.
Sejak pagi buta, sudah terlihat keramaian yang semarak dan penuh warna dari para pengunjung pasar yang melintas di sepanjang jalanan, sibuk melangkah dengan langkah yang lincah dan tanpa suara di atas kaki telanjang, serta dengan kegembiraan terpancar dari mata hitam mereka. Suasana yang sangat ramah terasa di tanah Sunda, yang seolah-olah ingin menampilkan sisi terbaiknya kepada kami.
Jalan masuk menuju Hotel Cisurupan yang terletak di ketinggian lebih dari 4.000 kaki menjadi kejutan yang dipenuhi bunga. Di sana, kuda-kuda kami sudah menunggu, yang dengan penuh perhatian telah disiapkan oleh manajer untuk kami, bersama pemandu dan pengawal. Kami menaiki kuda-kuda itu dan mulai mendaki lereng Gunung Papandayan, sementara matahari mulai muncul di balik puncak Gunung Cikuray yang megah. Setelah pendakian singkat, kami melewati sebuah warung pedesaan yang unik dengan tarif 50 sen per orang ditambah kuda. Lebih jauh lagi, seorang pria Belanda yang ramah, dengan selera humor yang tak terduga, telah memasang sebuah papan bertuliskan …. “Dilarang Masuk” di tepi jalan setapak hutan yang gelap, menuju hutan belantara yang lebat! ….
Para pemandu kami tiba-tiba merasa sangat lapar begitu kami melewati restoran bambu pertama yang kami temui, sehingga kami terpaksa merogoh dompet cukup dalam untuk membiayai sarapan mereka, dan dengan satu gulden per orang, kami justru semakin memperkuat harapan mereka akan kemakmuran keuangan kami di masa depan. Karena itu, mereka segera menyusul kami kembali, setelah kami mendaki sejauh beberapa saat dengan berjalan kaki.
Bunga margaret kuning yang terkenal, dan bunga putih panjang — (beracun) — serta bunga berbunga kecil berwarna oranye dan merah muda dari tembelekan (lantara camara-tanaman perlu liar yan gsering dianggap gulma) yang tersebar luas di Hindia, yang hampir tak ada yang tahu namanya, menghidupkan kehijauan tepi jalan, di baliknya terdapat kebun sayur, perkebunan kina, dan tak lama kemudian kemegahan hutan tropis di pagi yang sejuk dan berkabut.
Kuda-kuda itu melangkah dengan lincah menaiki jalan setapak yang licin dan curam, sementara para pemandu, sambil bercerita, berlari kecil mengikuti mereka. Sebagian besar cerita mereka berusaha menarik perhatian kami, meskipun tujuan ini terkadang disamarkan dengan pandai, misalnya dengan menceritakan kebaikan luar biasa yang ditunjukkan kepada mereka oleh para tuan yang dulu pernah mendaki Gunung Papandayan, dan yang… sangat mirip dengan kami! — Menurut pemandu, kawah tersebut rata-rata dikunjungi wisatawan setiap dua hari sekali. Namun, pernyataan ini pun mungkin merupakan upaya terselubung untuk menguras dompet kami, karena ia juga menceritakan bahwa dirinya, sang pemandu, hanya mengandalkan uang wisatawan untuk hidup.
Jalan setapak ini, yang terkadang sangat curam namun terawat dengan baik oleh para petugas, akan membawa Anda keluar dari hutan yang lebat setelah sekitar dua jam, melintasi tanah yang rapuh dengan pepohonan rendah: bekas luka yang kasar dari letusan gunung raksasa di masa lalu. Uap belerang yang menyengat sudah menerpa kami, dan kami dapat mengamati dari segala penjuru kekuatan dahsyat yang pernah terjadi di sini dari dalam perut bumi. Ini adalah kawah yang retak secara unik, yang disebut Papandayan: tanpa disadari, tanpa melintasi tepi apa pun, Anda pun masuk ke dalam mulut raksasa yang menganga lebar itu. Hanya dari bebatuan kasar dan telanjang, yang terbelah liar dalam gradasi warna merah, kuning, dan biru yang indah, serta hancur berantakan, dan disertai gemuruh, Anda menyadari bahwa Anda telah memasuki kawah itu sendiri, sementara panorama gua-gua belerang yang mengepul segera memperkuat sensasi luar biasa dari kesadaran ini.
Begitulah kami berdiri di hadapan tumpukan puing-puing yang berayun dari puncak G. Papandayan: pemandangan yang didominasi warna kuning (belerang) dan penuh kehidupan. Pemandangan ini memang kurang mengesankan dibandingkan dengan kedalaman tak terukur dari kawah terbuka, namun langsung memikat kami untuk mendekat dan menyelidikinya. Di sini, di sana, dan lihatlah di sana lagi serta di mana-mana, uap tebal menyembur mendesis dari lubang kawah, bergabung menjadi awan-awan dan terbawa angin ke dataran Garut, yang samar-samar terlihat di kejauhan. Atau, diam-diam, dari lubang kawah belerang yang berliku-liku, napas hangat bumi menguap; udara yang pengap. Lebih jauh lagi, kolam-kolam lumpur berwarna abu-abu gelap mendidih dan menggelegak, sebuah fenomena yang sangat aneh di lingkungan yang tinggi dan dingin ini, di mana angin bertiup kencang dan alam terasa seperti musim dingin. Di sampingnya, gunung-gunung berapi uap kecil kembali menghembuskan asap, beroperasi secara konstan dan teratur. Keajaiban dunia kawah ini seolah-olah ingin menjelaskan dirinya sepenuhnya; ia bekerja, menceritakan dengan rinci dari semua lorong misterius menuju bagian dalam bumi. Kami mendengarkan, mencari ….
Salah: keajaiban ini justru mengingatkan kami! Dengan nada mengejek, teka-teki besar di sekeliling kami itu muncul ke permukaan, yang bagi kami bagaikan lapisan atap yang rapuh dan tipis di atas lubang permainan raksasa berisi api dan air. Teka-teki itu menampakkan diri? . . . . tidak, karena di mana pun kami tidak berhasil melemparkan pandangan ke dalam teka-teki raksasa itu. Bagaimana semua ini saling terkait dan bersatu?! Apa inti dari rahasia besar ini?! Dari mana asal air lumpur yang terus mendidih itu di dalam panci-panci ajaib yang kelabu, tepat di dekat . . . sungai kecil yang jernih, hampir dingin? Bagaimana mungkin uap belerang juga terus-menerus keluar dari tanah dengan kekuatan sedemikian rupa? Siapa yang mengendalikan permainan maha dahsyat ini di satu-satunya tempat di gunung hijau raksasa ini? Dari mana semua ini berasal dan … . untuk apa semua ini?…. Di belakang pemandu — karena tidak semua tempat aman — kami menelusuri tanah berantakan yang masih aktif itu, batuk-batuk karena uap kering. Dilarang merokok!: tanah di bawah kaki Anda mudah terbakar! Pemandu itu memetik potongan-potongan belerang, serpihan kristal dari keajaiban besar itu. Di tengah kekacauan itu, kami menemukan sebuah papan penunjuk arah: menuju pos pengamatan.
Di atas sini tinggal (!) seorang ahli geologi bersama beberapa buruh, kepada siapa baru saja dua orang—yang kami temui di depan dan yang …. telah mengukur suhu kawah dengan termometer yang berbahaya—akan melaporkan kondisi sampel yang tampaknya mengkhawatirkan itu. Tempat tinggal yang suram di puncak gunung seperti ini, meskipun di sini masih ada sedikit lalu lintas yang bisa dinikmati, karena ada jalan setapak yang melintasi dari Cisurupan ke Bandung. Kami melihat beberapa orang Sunda yang terbungkus sarung dan kulitnya keriput karena terpapar cuaca, sedang mengangkut barang dagangan mereka dalam keranjang hitam. Suasana yang pengap menghalangi kami untuk berlama-lama di tanah yang penuh uap ini.
Pemandu pun melanjutkan perjalanan, berharap hari ini masih bisa memandu rombongan kedua? Merupakan kelegaan tersendiri untuk kembali tiba di hutan hijau, sementara kuda-kuda membawa kami kembali dengan cepat. Dua jam kemudian, kami duduk bersantai di kursi empuk Hotel Cisurupan sambil menikmati minuman dingin. Perjalanan ini, yang memakan waktu tujuh jam bolak-balik ke Ngamplang, pasti sepadan dengan biayanya yang sekitar empat puluh gulden.




