Memetik satu rangkaian kalimat peristiwa Tempat Pembuangan Akhir/TPA Leuwigajah, berbunyi “Sudah biasa manusia membuang sampah…, tetapi kali ini manusia ditimbun sampah”. Sepert yang ditulis oleh H.M. Itoc Tochjia dalam buku Tragedi Leuwigajah (2005). Buku yang berisi kesaksian para pelaku terdampak oleh longsoran sampah TPA Leuwigajah tahun 2005.
Peristiwa ini terjadi karena salah urus manajemen pengelolaan sampah, volume sampah yang terus bertambah tiap harinya, daya dukung, hingga tata lingkungan yang buruk. Terjadi pada dini hari, tanggal 21 Februari 2005, dalam waktu sekejap. Berupa longsoran sampah yang mampu menelan dua kampung yang berada di bawah lereng, serta memakan korban hingga 143 orang tewas terkubur. Kemudian 139 rumah terdampak langsung, ditimbun oleh sampah.
Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah, menjadi bencana terbesar di Indonesia dan di dunia. Setelah TPA Payatas di Quezon City di Filipina, pada 10 Juli 2000. Di Indonesia, menjadi peristiwa terburuk yang pernah terjadi. Sehingga kejadian ini menjadi rekor terburuk dalam pengelolaan sampah di Indonesia.
Leuwigajah berupa perbukitan intrusi batuan beku, sebagian besar wilayah ini telah ditambang. Dalam peta geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), Leuwigajah disusun oleh Tuf Batuapung (Qyt), berasal dari hasil G. Tangkubanparahu. Sebagian besar wilayah ini disusun oleh endapan gunungapi, berupa batuan yang telah lapuk menjadi tanah. Kondisi geologi tersebut salah satu penyumbang longsor. Menempati bidang hampir 29.3 hektar, dengan luas total jaraknya hampir 2,5 km. Berada didua perbatasan wilayah administrasi. Di sebelah timurnya berada di Leuwigajah, Cimahi Selatan. Kemudian sebagian lagi masuk ke Batujajar Timur, Batujajar.
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Leuwigajah, merupakan lembah sisa kegiatan pengambangan batu. Ceruk tersebut dimanfaatkan sebagai lokasi pembuangan sampah, dengan teknik land fill atau penimbunan. Difungsikan sebagain open dumping sejak 1986. Sampah berasal dari Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kota Bandung. Sehingga bisa dibayangkan, setiap hari volumenya terus bertambah. Membentuk gunungan sampah, konsekuensi teknik penimbunan terbuka atau land fill. Pengelolaan dengan cara menimbun ulang sampah dengan material tanah.
Dibangun atas bantuan World Bank, melalui progam Bandung Urban Development Project (BUDP), mulai dikerjakan sejak 1983. Memilih perbukitan di Leuwigajah, sisa kegiatan penambangan, berupa lereng terbuka dan memiliki ceruk yang dianggap ideal dalam teknik pembuangan terbuka (land fill). Pertama kali diujicobakan pada tanggal 13 Januari 1987, menampung sampah dari tiga wilayah. Kemudian pada bulan Agustus 1987 dihentikan untuk dievaluasi kembali. Penghentian operasi tersebut, karena kurang pahamnnya pengelolaan dngan teknik open dumping. Terutama pengoperasian sampah model sanitary landfill. Namun ditahun-tahun berikutnya dibuka kembali, menerima sampah dari tiga wilayah di Cekungan Bandung.
Sampah yang dibuang ditempat ini mencapi 5 ton per hari, terus bertambah setiap harinya. Lokasi tersebut mengalami ketidakseimbangan daya dukung lingkungan, menyebabkan kerentannan terhadap kondisi lingkungan. Apalagi dengan teknik open dumping yang memerlukan penanganan sampah, bukan saja membuang tetapi menata dan memilah. Tetapi pada kenyataanya, sampah-sampah tersebut tidak dipilah. Sehingga menjadi potensi akumulasi gas-gas metan dan karbon terbentuk tanpa kendali. Terjadi akibat pembusukan bahan organik.
Total luas lahan penimbunan sampah ini, mencapai 79,4148 Ha. Menempati lembah perbukitan, diantaran dua wilayah. Sebelah utaranya masuk ke Batujajar, sedangkan bagian selatannnya bagian dari Cimahi. Sampah yang datang tidak pernah berhenti, dari perhitungan pengelola sampah menyebutkan sumber sampah datang dari tiga tempat. Kota Bandung menyumbang 4500 meter kubik per hari, kemudian Kabupaten Bandung 750 meter per kubik dan kota Cimahi 450 meter per kubik per hari.
Sejak satu minggu lebih, air hujan mengguyur Cimahi utara. Terhitung ari tanggal 20 Februari 2005, hujan terus saja membasahi gunung sampah. Kondisi demikian menjadi acaman akan terjadinya longsoran, akibat air hujan yang menyusup menjadi biang gelincir. Bidang kontak antara tumpukan sampah dan permukaan tanah serta batuan.
Longsor terjadi karena gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Dipengaruhi oleh kekuatan daya ikat sampah tersebut, kepadadatan sampah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi besarnya sudut lereng, beban, berat jenis serta faktor lainya seperti terbentuknya gas metan.
Laporan longsor pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1990 berupa lonsoran lokal, berskala kecil. Kemudian pada tahun 1994 terjadi longsoran berikutnya, menimbun tujuh rumah tanpa menyebabkan kematian warga. Kondisi demikian sudah menjadi peringantan awal, mengenai pengelolaan sampah. Kelak menjadi akumulasi dari peristiwa sebelumnya.
Sebelum terjadi peristiwa longsoran besar 2005, selang beberapa hari sebelumnya, warga menemukan kejanggalan. Berupa retakan tanah di bagian atas perbukitan. Warga Kampung Cilimus Batujajar, menyaksikan tanah yang terbuka memanjang. Tanah perkebunan yang berdampingan dengan TPA Leuwigajah retak, terbuka sekitar 20 cm. kesaksian tersebut diabaikan, karena dianggap sesuatu yang biasa. Keterangan lainya mengabarkan kalau air sampah atau lindi, mulai turun ke perkampungan di bagian bawah.
Keterangan tersebut disampaikan kepada petugas TPA, namun tidak mendapatkan perhatian karena dianggap biasa. Namun bila ditarik kebelakang, pernah terjadi longsor pada tahun 1994. Terjadi akibat curah hujan tinggi, menyebabkan terjadi pergerakan sampah beberapa kali. Karena ukurannya kecil, sehingga tidak terlalu menjadi perhatian.
Kondisi demikian sebenarnya adalah tanda-tanda, membawa malapetaka besar. Namun karena kekurangan pengetahuan, serta majamen pengelolaan. Sehingga kondisi tersebut dianggap hal yang biasa terjadi, mengingat sampah terus datang dan tidak pernah berhenti.
Hujan terus mengguyur sejak minggu tanggal 20 Februari 2005. Kondisi demikian menjadi kesempatan baik bagi pemulung. Akibat hujan, sampah menjadi mudah diais, kemudian kepulan asap dan bau hilang dibawa hujan. Sehingga tidaklah aneh bila kondisi hujan, para pemulung berlomba-lomba dengan waktu, mengais sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali.
Hujan terus saja jatuh dari langit hingga sore, memberikan tanda-tanda bahwa air akan terus dijatuhkan hingga malam. Kondisi gemericik hujan jatuh, mengantarkan warga kampung kembali keperaduannya, terlelap hingga tengah malam. namun beberapa warga ada yang merasa khawatir, mengingat sebelumnya pernah dilaporkan terjadi retakan di atas bukit.
Jelang malam gununungan sampah bergerak menggeliat perlahan, suarannya hilang ditelan oleh gelap malam. gas-gas metan mulai terbentuk, akibat air hujan menyusup hingga dasar. Akibatanya terbentuklah retakan-retakan, memberikan jalan kepada gas metan untuk keluar.
Hingga dini hari hujan terus jatuh, menyergap kampung. Hingga pukul 02.00 WIB dini hari, terdengar suara ledakan keras. Membuat warga kampung berhampuran berlari, mencari tahu apa yang terjadi. Bersarnya ledakan tersebut menghasilkan kobaran api yang membumbung tinggi. Beberapa warg memberikan kesaksian, tingginya hingga 100 meter dan berkobar diantara lautan sampah. Dalam gelap, warga di bawah lereng menyaksikan gumpalan awan hitam yang datang seperti gelombang air. Menuruni lereng dengan cepat, berupa sampah yang mengalir dengan cepat menerjang rumah-rumah warga. Berupa sampah yang longsor, mencapai ribuan ton menimbun kampung beserta isinya. Terjadi dalam waktu singkat, sehingga warga yang menjadi korban tidak sempat mengungsi.
Bagi yang tidak bisa menyelamatkan diri, terjebak di dalam rumah. Sebagian lagi terkubur hidup-hidup oleh gunungan sampah dalam volumen besar.
Dalam sekejap dua kampung lenyap tidak berbekas, menginggalkan bukit-bukit sampah yang menempati hingga lereng. Mengalir jauh hingga ke dasar perbukitan, menelan perkebunan warga. Diperkirakan sampah tersebut mengalir hingga 1 km lebih ke arah baratdaya, dengan lebar longsoran 250 meter lebih. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok Cireundeu hilang ditelah oleh longsoran sampah. Dalam kerterangan korban, longsoran sawah dimulai dengan suara ledakan. Kondisi demikian terjadi akibat akumulasi gas metan (CH4), seiring dengan bertambahnya volume air akibat hujan. Gas metan adalah gas alam yang tidak berbau, berwarna dan mudah terbakar. Gas tersebut dihasilkan dari prose penguraian sampah organik seperti daun-daunan dan makanan. Menandakan pengelolaan sampah, tidak dilakukan pemilahan. Sehingga seringkali terjadi peningkatan gas metan yang tidak termonitor. Cara menghilangkan gas tersebut, dengan cara pembakaran lokal sehingga gas-gas tersebut habis. Namun karena kondisi hujan yang berlangsung berhari-hari, menyebabkan gas tersebut terkumpul. Dengan demikian tinggal menunggu pemicunya saja, seperti terkanan gas yang berlebihan menyebabkan ledakan.
Diperlukan waktu lebih dari 15 hari, untuk mencari posisi korban. Mengingat tumpukan sampah tersebut masih memiliki bahaya yang mengancam petugas penyelamat. Dilaporkan seringkali terjadi kemunculan gas karbon dioksida CO2, dan gas metan CH4.
Dari 143 orang korban yang dievakuasi, hanya satu orang yang tidak pernah ditemukan hingga kini. Mengingat posisi longsoran dalam volume besar, dan posisi korban sulit diditentukan. Sehingga setelah hampir setengah bulan pencarian, diputuskan untuk dihentikan. Kampung yang terlanda akhirnya direloasi di tempat lain, dan TPA Leuwigajah ditutup untuk selamanya. Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah, menjadi cerminan pengelolaan sampah. Sehingga perlu penanganan sampah yang modern, seperti saat ini. Karena sumbangan sampah tidak akan berhenti, hingga peradaban manusia masih ada.


