Dari kejauhan terlihat bentuk kerucut yang nyaris lancip sempurna. Bila dipandang dari berbagai arah, bentuknya tetap seperti alat menanak nasi dalam budaya Sunda disebut aseupan. Namun bila dilihat secara seksama, membentuk dinding yang memanjang baratlaut-tenggara dan mengkerucut dibagian tengahnya. Bila diukur dari titik terendahnya, sekitar 1 km lebih, dan lebar hampir setengahnya. Sehingga pada pendakian, memanfaatkan punggungan dengan lebar yang tidak lebih dari tiga meter.

Tubuhnya ditempati vegetasi invasif seperti kaliandra (Calliandra calothyrsus Meisn), menandakan batuannya keras dan unsur haranya buruk. Tumbuhan yang bukan berasal dari lokal tersebut, mampu hidup dalam kondisi demikian. Kemudian menjelang bagian puncaknya didominasi oleh  jenis gulma. Seperti alang-alang atau eurih dalam bahasa Sunda (Impereta cylindrica). Disebut gulma karena tumbuh menahun, berbiak dengan cepat dan mampu tumbuh subur dilahan gersang dan terbuka.

Walaupun tubuh gunung tersebut disusun oleh lava tebal, namun bagian permukaannya melapuk. Berupa batuan andesit yang memiliki warna abu-abu terang. Menuju puncak bisa didaki dari arah barat atau dari sisi utara, sekitar Sukarja. Dilakukan dengan cara pendakian semi teknikal, karena diperlukan sistem pengamanan pendakian yang memadai.

Jalur pendakiannya menapaki batuan lepas, akibat pelapukan. Sehingga perlu kehati-hatian, apalagi saat mendekati puncak. Ditemui bongkah batuan lepas, dengan ukuran beragam. Mulai dari ukuran kerakal hingg bongkah. Dengan demikian jalurnya memiliki tingkat bahaya, seperti jatuhan batuan (rock fall), batuan pijakan yang mudah lepas hingga bahaya longsor.

Masyarakat menyebutnya Gunung Batu, seperti yang dituliskan dalam leksikon peta nasional. Tingginya sekitar 875 meter dpl. menjulang tinggi diantara hamparan perbukitan dan lembah. Untuk menyematkan apakah bentukan alam ini adalah masuk ke dalam kategori gunung atau perbukitan, diperlukan standar pengertian yang telah baku.

Pengertian bukit dan gunung, diuraikan dalam keterangan Kamus Geologi karya Purbo Hadiwidjoyo (2013). Bukit merupakan tinggian alami, umumnya berdongak kurang dari 300 meter dari kakinya. Dengan demikian untuk menyebutkan kategori gunung, lebih dari angka tersebut. Pada Peta Rupabumi Digital Indonesia, Lembar Dayeuhkaum (1999), tingginya menunjukan angka 875 meter dpl. Sedangkan titik pendakian, atau dasar permukaan perbukitan itu muncul dihitung di 650 meter dpl. Sehingga memiliki selisih pertambahan tinggi sekitar 225 meter dpl.

Dengan demikian Gunung Batu Jonggol, lebih tepat disebut sebagai bukit. Karena bila dihitung dari dasar dataran, ke bagian tertinggi  (puncak) tidak lebih dari 300 meter. Sehingga tidak didasarkan dari perhitungan di atas permukaan laut, atau yang biasa dikenal mdpl.

Posisi administrasinya berada di Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari kota Bogor ke arah timur, atau sekitar 3 jam dari ibu kota Provinsi Jawa Barat.

Keberadaanya bentang alamnya berupa perbukitan soliter, dan beberapa tinggian perbukitan yang tersebar hingga ke arah timur. Diantaranya G. Pancaniti (849 meter dpl.), G. Subang (845 meter dpl.), G. Lingga (745 meter dpl.). Puncak-puncak perbukitan tersebut merupakan satu sistem perbukitan intrusi G. Borenges (1010 meter dpl.).  kemudian ke arah timurnya, terlihat kerucut intrusi G. Sungging (738 meter dpl.). Sebarannya menerus ke arah timur dari batas G. Borenges ke Cikalong Kulon hingga berbatasan dengan Waduk Cirata (Sudjatmiko, 1972).

Hadirnya perbukitan intrusi ini, akibat naiknya magma dalam perut bumi. Diberikan jalannya melalui rekahan dipermukaan bumi, akibat dinamika tektonik yang terjadi 38 juta tahun yang lalu. Disebut pahatan aktif naik Citarum-Cisomang (Soehaimi, 2010). Patahan atau sesar adalah bidang rekahan pada batuan, disertai adanya pergeseran relatif satu blok terhadap blok lainya. Sedangkan intrusi tersebut terjadi pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal (Maryono dkk., 2018). Intrusi batuan beku tersebut biasanya berasosiasi dengan alterasi hidrthermal pembawa mineal ekonomis sperti Cu-Au dan Au-Ag.

Dalam peta Geologi lembar Cianjur yang disusun oleh Sujatmiko Miko, 1972, disebutkan kerucut tersebut disusun oleh andesit dan basal (ab), yang menerobos Formasi Jatiluhur Anggota Breksi dan Batupasir (Mtb), umur Miosen. Seiring waktu batuan Formasi Jatiluhur tersebut tererosi, kemudian menyisakan betang alam unik seperi ini karena sifatnya yang lebih resisten, berupa bentuk kerucut yang begitu nyaris sempurna. Intrusi dengan morfologi demikian, bisa dikategorikan sebagai lava plug atau atau leher gunungapi  (volcanic neck). Cirinya adalah disusun oleh lava pejal (masif), membentuk kerucut. Leher gunungapi adalah kolom batuan beku, terbentuk di dalam salura gunugapi. Jadi bisa dibayangkan bahwa dahulu G. Batu merupakan tubuh gunungapi. Terbentuk demikian saat magma naik, melalui mekanisme penerobosan (igneous intrusion) dan membeku mendekati permukaan bumi (litosfer). Magma tersebut menerobos bidang lemah yang tersusun oleh Breksi dan Batupasir, Formasi Jatiluhur, kemudian membeku melalui proses pendinginan yang sangat panjang.

Keberadaan Gunung Batu menjadi petanda geografi yang unik yang saat ini menjadi tujuan wisata bumi. Bukan saja menikmati bentang alamnya, tetapi kini menjadi tujuan kegiatan penakian hingga kebagian puncaknya. Sehingga diperlukan pengelolaan yang baik, terutama masalah mitigasi dan keselamatan bagi kegiatan pendakian.

Bentuk Kerucut khas G. Batu Jonggol. (c)Deni Sugandi