Dalam ruangan yang tidak terlalu lebar, tetapi mampu merangkul seluruh partisipan dalam diskusi singkat. Mengupas sejarah kota, sungai dan budaya yang hadir di dalamnya. Dari bentang waktu peradaban praakasara, sejarah bumi, hingga bagaimana kota tersebut berdiri hingga kini. Menyajikan kota Bandung dari sisi pariwisata berbasis spasial, selain wisata belanja, event atau kuliner. Membidik bentang alam yang membentuk kota dan budaya.
Terlaksana atas inisiasi pengurus organisasi, Himpunan Pramuwisata Indonesia, DPC Kota Bandung. Bagian dari peningkatan kapasitas para pemandu, menunjang profesionalitas dan pengembangan narasi dalam kegiatan pemanduan wisata kota Bandung.
Dimulai jelang siang, pukul 09.00 wib. Tanggal 11 Februari 2025. Dilangsungkan di sekretariat HPI DPC Kota Bandung. Kegiatan terbuka untuk seluruh anggota organisasi, dihadiri lebih dari 30 orang diantaranya adalah para pemandu wisata aktif. Dalam pembukaan, Ketua DPC Kota Bandung, Bintang Irawan, menyampaikan pentingnya pengetahuan tentang kota Bandung dari sisi sejarah bumi. Bagian dari pengayaan narasi pariwisata, bekal untuk kegiatan pemanduan wisata khususnya di wilayah kota Bandung.
Teknis kegiatan dilaksanakan melalui presentasi, kemudian dilanjutkan sharing session. Berupa aktivitas walking tour sekitar Gang Apandi hingga Pasar Antik Banceuy, sejauh 1,2 km. Narasumber disampaikan Deni Sugandi, ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia/PGWI. Mengetengahkan dasar pemahaman dan latar belakang hadirnya kota. Dari sisi sejarah bumi terbentuknya cekungan Bandung, hadirnya Danau Bandung Purba hingga bagaimana kota ini tumbuh berkembang. Kegiatan presentasi dilaksanakan di sekretariat HPI DPC Kota Bandung, Jalan Suniaraja Timur Nomor 39 Bandung.
Materi bisa diunduh di:
Dalam sajian presentasi, Deni memulai dari sajak yang ditulis Jan Visse. Dewan redaksi majalah pariwisata di masa Hindia Belanda. Puisi yang ditulis pada majalah Mooi Bandoeng, edisi Nomor 2, Augustus 1933. Sajak yang melukiskan semangat pembangunan kota Bandung, pada saat di bawah naungan Hindia Belanda. Kota yang berkembang dari tempat pembuangan para bandit, hingga berkembang menjadi hunian dan disiapkan menjadi ibu kota Hindia Belanda.
Dalam puisinya Visse menyebutkan beberapa perkara, menjadikan Bandung sebagai kota hunian yang ideal. Diantaranya menuliskan Bandoeng met je blauwe bergen In het wazig ver verschieten. Bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Memberikan gambaran bahwa kota di dataran tinggi di atas 700 mdpl. dilingkung oleh perbukitan dan gunung. Sebelah utaranya berdiri tegak G. Tanngkubanparahu, tumbuh di dalam lingkaran kaldera G. Sunda. Kemudian ke arahnya timurnya hadir kerucut-kerucut G. Bukittungul-Palasari-Manglayang-Kareumbi. Membatasi sisi bagian timur, berdiri soliter G. Geulis-Jarian.
Bagian selatannya berjajar G. Malabar-Patuha-Kendang. Sedikit ke arah barat, berjajar punggungan perbukitan karst Citatah. Membujur baratdaya-timurlaut, disusun oleh sisa-sisa makhluk laut. Menandakan perbukitan Citatah ini bukanlah sisa dari kegiatan kegunungapian, namun perbukitan yang tumbuh dari endapan karbonat-seperti halnya pembentukan terumbu karang modern saat ini. Keberadaan perbukitan dan pegunungan ini, kelak akan digunakan sebagai sarana pertahanan militer. Seiring dengan pemindahan ibu kota Hindia Belanda ke Bandung. Terbukti antara 1914-1918, dibangunlah sistem pertahanan berupa bunker, dilengkapi dengan senjata anti pesawat dan meriam antar gunung. Dibangun di daerah tinggian yang tersebar di perbukitan bagian barat di Citatah. Kemudian di bagian utara, diantara perbukitan G. Putri, sistem pertahanan bagian utara Bandung.
Selain pemanfaatan untuk pertahanan militer, perbukitan dan gunung-gunung tersebut membawa berkah. Tambang belerang di kawah G. Tangkubanparahu, tanah yang subur ditempati perkebunan, hingga air yang melimpah. Disalurkan melalui sungai-sungai deras, dipanen melalui sistem pembangkit tenaga listrik air. Diantaranya adalah Ci Kapundung, sungai yang membelah kota Bandung. Mengalir dari utara dari lereng G. Bukittunggul, berakhir di pertemuan dengan Ci Tarum di Dayeuhkolot.
Selanjutnya menuliskan kekagumannya dengan tata kota yang sedang berkembang. Bandoeng ‘met je mooie huizen En je rijken bloemenschat Met je flinke ruime straten, Ben je meiner Traume Stadt. Pembangunan dan perluasan akses jalan, merupakan upaya persiapan pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke dataran tinggi Bandung.
Modal dasarnya adalah sudah tersedianya jalan utama. Dibangun oleh Daendels, melalui proyek Jalan Raya Pos. membentang dari barat di Anyer, melalui pedalaman priangan hingga ke Cirebon. Daendels menyadari penting nya sistem transportasi, agar memudahkan pergerakan militer dalam rangka mempertahankan serangan dari Inggris saat itu. Pemindahan pangkalan militer sudah dilakukan oleh Belanda, ke Cimahi pada 1898. Pedalaman Priangan saat itu, sebelah barat kota Bandung. Disusul dengan pemindahan Artillerie Constructie Winkel atau pabrik senjata yang kini disebut Pindad, dari Surabaya ke sekitar Kiaracondong, Bandung.
Alasan selanjutnya adalah kota di pesisir utara dianggap kurang baik, berdasarkan laporan seorang ahli kesehatan Hendrik Freerk Tillema. Dalam penelitiannya pada 1916, menyebutkan bahwa kondisi kesehatan kota-kota di pesisir utara Jawa, termasuk Batavia dianggap kurang baik. Tillema mengusulkan kepada Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921), memindahkan ibu kota Hindia belanda ke daerah pegunungan yang sejuk,
Selain pemindahan pusat komando militer ke Cimahi, dibantunlah gedung-gedung yang kelak akan digunakan sebagai administrasi negara Hindia Belanda. Diantaranya gedung untuk urusan transportasi, pekerjaan umum dan manajemen air. Departement Verkeer en Waterstaat, kini disebut Gedung Sate, kantor Gubernur Jawa Barat. Disusul dengan pembangunan gedung Jawatan Kereta Api, Pos-Telegraf dan Telepon, Jawatan Metrologi, Jawatan Geologi dan seterusnya.
Dalam bait selanjutnya, Bandoeng I met je mooie winkels, ‘s Avonds schitterend verlicht. Bandung kini telah bersolek, dihiasi penerangan cahaya pada saat malam hari. Menandakan pengelolaan listrik melalui fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Diusahakan sejak akhir abad ke-19, diawali melalui skala kecil, untuk pemenuhan kebutuhan pabrik teh, dan perkebunan lainya. Dikelola Oleh Gemeenschappelijk elektriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken disingkat GEBEO pada tahun 1918. Mengelola pembangkit listrik, memanfaatkan aliran Ci Kapundung hulu, melalui pembangkit listrik tenaga air Dago Bengkok. Kemudian pada tahun berikutnya, dibangun fasilitas yang sama, untuk memenuhi kebutuhan listrik Bandung selatan.
Kota yang sejuk dilingkung gunung, pemanfaatan sumber daya alam air melalui pembangkit tenaga listrik, tanahnya yang subur serta sejutk. Merupakan kota yang ideal, menjadi dasar rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda 1916-1933. Kegiatan pembangunannya harus terhenti karena krisis ekonomi global, kondisi politik dunia yang tidak menentu. Terakhir ditutup oleh kedatangan tentara Kekaisaran Jepang 1942, mengakhiri cita-cita Bandung sebagai pusat pemerintahan masa Hindia Belanda.



