Bagian dalam benteng, membentu persegi delapan.
Fasad benteng bagian depan.

Pada dinding bagian atas gapura, dituliskan angka 1820. Menandakan tahun pusat pertahanan militer ini didirikan, menjadi tonggak peristiwa penting tentang perlawanan pribumi kepada kolonial. Namun jauh sebelum Jawa bergejolak, benteng ini berfungsi sebagai kantor kamar dagang VOC di daerah Gombong. Dari kegiatan ekonomi kemudian disulap menjadi benteng pertahanan pada 1844. Sebagai upaya mitigasi konflik perang Jawa ke-dua. Pascaperang Diponegoro.

Awal abad ke-19, Jawa bagian tengah bergolak oleh perang. Dampaknya lokal tetapi menyebabkan kolonial kewalahan, karena perang tersebut terorganisir melalui sistem komando. Disebut perang Jawa, atau perang Diponegoro. Berlangsung dari 1825 hingga 1830. Benteng ini merupakan upaya persiapan perang Jawa berikutnya, diduga hadirnya kekuatan baru di Kesultanan Yogyakarta.

Benteng ini dihubungkan denga nama Frans David Cochius (1787-1876). Jenderal tentara VOC yang bertugas di daerah Bagelen bagian barat. Pada awalnya VOC mendirikan kantor dagang di Gombong, mengingat posisi strategis dan bisa memantau ekonomi dipebatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Diperkirakan dibangun 1820-an, kemudian dialihfungsikan menjadi benteng pertahanan pada 1844 hingga tuntas di 1848.

Dinamai Benteng Fort Cochius/Fort General Cochius, sesuai dengan nama jenderal yang berkuasa saat itu.

Karena konflik tidak kunjung tiba, benteng ini kemudian besalin rupa menjadi Sekolah Taruna Militer (Puppilenschool), untuk anak-anak Eropa yang lahiir di Hindia Belanda. Dari momen inilah, nama yang melekat sebelumnya diganti dengan nama Carel Herman Aart van der Wijck, sebagai penghormatan atas jasanya kepada militer Hindia Belanda. Ia adalah Gibernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada 1893 hingga 1899.