Keterangan warga Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, sumber buku Geïllustreerde encyclopaedie van Nederlandsch-Indië. Ditulis oleh Gonggryp, G.F.E. CoauteurBoogh, W.K. Jaar van uit gave Tahun 1934

Suku Badoei. Sebuah suku yang bisa dibilang merupakan sisa-sisa dari zaman pra-Islam. Orang-orang ini hampir tidak tahu apa-apa tentang Islam. Mereka mendiami lereng Pagelaran, tempat mata air Tji Oedjoeng berada, di BantenTenggara (kabupaten Lebak). Desa mereka bernama Kanèkès. Dari segi penampilan, mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk lainnya, sementara adat istiadat mereka juga memiliki kesamaan. Diperkirakan bahwa saat Islam diperkenalkan di Jawa Barat, mereka mengungsi ke pedalaman yang saat itu sulit dijangkau agar dapat tetap setia pada kepercayaan tradisional Jawa mereka. Arti (asal-usul) kata Badoei tidak pasti; menurut sebagian orang, kata itu berasal dari Bedoewi (Bedoelen), penduduk pegunungan gurun Arab. Mereka memiliki standar moral yang tinggi dan hidup sederhana serta bersahaja. Mereka memuja arwah leluhur mereka. Kepala desa mereka, yang tampaknya juga berfungsi sebagai pemimpin spiritual, disebut Poe-oen; kepala Poe-oen adalah Poe-oen Girang (artinya: di seberang sungai). Ia tinggal di seberang sungai dekat kuburan dan bertindak sebagai perantara dengan arwah yang telah meninggal; orang lain tidak boleh tinggal di sana. Desa Kanèkès memiliki tiga desa satelit. Di dalam lingkaran ini, hanya empat puluh keluarga yang boleh dan diizinkan tinggal. Kelebihan penduduk harus pindah ke luar; mereka adalah orang penamping (dari kata tamping = batas) berjumlah 1.300–1.400. Di sekelilingnya tinggal para setengah-Badoei yang telah sedikit terislamisasi. Warga Baduy, meskipun bukan Muslim, juga melakukan sunat.