Merintis jalan penghubung Kamojang melalui Paseh, melalui penggalangan dana. Satu meter satu gulden!

Dalam rancangan tujuan wisata Priangan, Garut menempati peringkat istimewa. Begitu luar biasanya panorama dan budaya daerah ini, dijuluki Swiss van Java. Negeri dongeng di Eropa yang berada di Garut. Tentu saja yang menyebut sanjungan tersebut adalah media pariwisata Hindia Belanda abad ke-19.

Kamojang adalah bagian dari paket perjalan wisata saat itu, bersanding dengan panorama Garut. Seperti Ngamplang, Cisurupan hingga Cipanas. Saat itu satu-satunya jalan adalah melalui persimpangan Pajagan Sukahaji Samarang, sebelah barat Garut. Saat itu jalannya relatif landai, sempit dan berkelok-kelok. Tiba di Ciparay, jalan nya terjal menanjak hingga Cisarua. Selepas itu tiba di kawasan Dano Pangkalan, Kamojang.

Bagi yang berangkat dari Bandung, harus memutar melalui Kadungora, kemudian ke arah Samarang, Garut. Sehingga wartawan pariwisata Kolonial Belanda itu menulis artikel di Mooi Bandoeng; maandblad van Bandoeng en omstreken-officieel orgaan van de Vereeniging “Bandoeng Vooruit”, 5 Januari 1938 menuliskan judul “Een Vorstelijke Gift voor ons Kamodjanweg Fonds”, diterjemahkan Hadiah yang Luar Biasa untuk Pendanaan Jalan Kamodjan Kita.

Dalam artikelnya dituliskan, dewan redaksi merasa terkejut karena menerima donasi sebesar 500 gulden. Datang dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, berkaitan dengan penggalangan dana yang disampaikan melalui pengumuman di majalah sejak bulan April. Dalam perjalanannya, komunitask Bandoeng Vooruit turut berkontribusu melalui anggotanya. Berupa donasi uang yang tidak terlalu besar.

Donasi tersebut sebagai upaya yang dilakukan oleh komunitas pariwisata di Bandung, dengan tujuan pembangunan jalan pintas. Jalan yang terus diusahakan dalam beberapa bulan ke depan, agar segera terwujud. Pembangunan jalan menuju Kamojang melalui Paseh. Diharapkan akan meningkatkan kunjungan pariwisata dan menjadi jalur penghubung alternatif antara Bandung ke Garut melalui Kamojang.

Artikel yang mengajak donasi, dibuka secara umum, untuk pembukaan jalur alternatif menuju kamojang melalui Ibun-Paseh. Bahkan dalam artikel tersebut di buatkan kotak pengumuman penggalangan donasi. Betaalt U ook een meter? Apakah anda bersedia menyumbkan satu meter?. Judul tersebut menggambarkan jumlah biaya yang dibutuhkan adalah 8000 gulden, untuk panjang ruas jalan 8 km. Sehingga diperlukan 1 gulden untuk 1 meter.

Berikut adalah artikel di majalah edisi 7 Januari 1938, dengan judul Een Nieuwe Autoweg Naar de Kawah Kamodjan. Diterjemahkan Jalan raya baru menuju Kawah Kamojang.

Mereka yang pernah melakukan perjalanan dari Paseh ke Kawah Kamojang mungkin sulit membayangkan bahwa, alih-alih jalan pegunungan yang curam dan sempit dengan bebatuan besar dan kolam lumpur, jalan akan segera berkelok-kelok menanjak. Bahwa warga Bandung dapat melakukan perjalanan menakjubkan ke kawah Tangkoeban Prahoe dan puncak Papandayan sepenuhnya dengan mobil telah kembali menjadi sesuatu yang “biasa,” tetapi “Bandung Vooruit” yang tak pernah berhenti telah memetakan rute baru untuk kita; sekali lagi, dalam waktu dekat, kita akan dapat menikmati pemandangan dan panorama terindah dari dalam mobil, seperti yang ditawarkan jalan menuju Kawah Kamojang ; sekali lagi, kita akan dapat berkendara di antara pepohonan raksasa yang lebat dan mengagumi pakis, anggrek, dan bunga-bunga serta tanaman berduri lainnya di hutan tropis. Setelah melewati “Dataran Inggris” yang terkenal, kita mencapai tujuan utama perjalanan: Kawah Kamojang , dengan kolam lumpur mendidih, solfatara, dan fumarol nya. Di sana, kita bisa berjalan-jalan berjam-jam di tengah awan uap yang sangat aktif dan kuat yang dipancarkan oleh bumi. Kita tidak akan merasa telah menyelesaikan perjalanan yang melelahkan, dan kita juga tidak perlu terburu-buru untuk kembali tepat waktu, karena perjalanan di sepanjang jalan baru dari Bandung hanya akan memakan waktu sekitar satu jam. Kemudian, tentu saja, setelah kunjungan ke Kawah, makan siang lezat yang terkenal di Hacks, dan kemudian kembali lagi. Dan penduduk Bandung sekali lagi akan dapat berkata: “Betapa berharganya jalan menuju Kawah Kamojang! Ini adalah perjalanan yang tak terlupakan dan sangat sepadan dengan usaha!” Jalan baru ini juga akan membentuk koneksi yang luar biasa dengan Garut. Ini akan menjadi anugerah bagi banyak orang yang ingin mencapai Garut dengan mobil sesegera mungkin untuk dapat melakukan perjalanan melalui Paseh. Dan koneksi ini juga akan disambut baik oleh mereka yang ingin melakukan perjalanan ke timur dan selatan Garut. Jalan ini tidak hanya memangkas jalan memutar yang panjang melalui Nagreg dan Leles, tetapi pada saat yang sama memungkinkan seseorang untuk melihat Dataran Inggris dan Kawah.

Namun saat ini, belum ada tanda-tanda jalan raya baru ini. Dari Paseh, jalan pegunungan yang tidak nyaman masih berkelok-kelok menanjak, yang menjadi genangan lumpur besar selama musim hujan; saat hujan, jalan itu tampak seperti akan berubah menjadi sungai; di beberapa tempat, airnya mencapai kedalaman sepuluh sentimeter. Tetapi, terlepas dari musim hujan atau tidak, para pelopor “Bandung Vooruit” memiliki rencana besar untuk jalan raya baru, dan itu akan diteliti. Menemukan rute di antara lereng, jurang, dan hutan ini adalah tugas yang berat dan sulit, dan membutuhkan pengetahuan menyeluruh tentang kondisi lahan di sekitarnya sebelum pekerjaan pemetaan rute jalan dapat dimulai. Penyelidikan telah dilakukan beberapa kali dari Pasanggrahan di Paseh, kemudian lagi dari Hotel Hacks, sekarang ke arah ini, lalu lagi ke arah itu. Mereka mencari dan mencari; Di sini ada tanah yang bergeser, lerengnya terlalu curam, ada bentangan yang layak, tetapi jurang yang dalam membuat rencana ini tidak layak juga. Namun harapan tidak ditinggalkan; Upaya baru akan dilakukan lain kali, mungkin dari sudut yang berbeda.

Rute jalan baru ini akan sangat indah. Panorama di bawah kita terbentang sejauh mata memandang. Di kejauhan, seperti bingkai yang indah, terbentang Burangrang dan Prahoe; di bawah kita terbentang dataran Bandung yang luas dengan sawah-sawahnya yang tak terhitung jumlahnya, bagian-bagian yang tergenang airnya berkilauan seperti cermin kecil di bawah sinar matahari; Sungai Tjitaroem berkelok-kelok melewati dataran dengan banyak liku-liku. Di sisi barat, tanah datar tiba-tiba terputus secara aneh oleh G. Geulis dan G. Nini yang berbentuk unik, dan di sisi lain, perbukitan G. Salasih dan Mandalawangi terbentang. Bandung sekali lagi akan dapat berbangga dengan jalan baru menuju salah satu sawah yang paling menarik.

Itulah hasil kerja Bandung Vooruit! — Para pelopor Asosiasi ini bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa, tanpa pamrih, dan dengan senang hati memberikan waktu dan energi luang mereka agar orang lain dapat menyaksikan keindahan alam ini di kemudian hari. Kerja keras dilakukan untuk mewujudkan rencana indah ini, meskipun diterpa hujan monsun barat yang deras, genangan lumpur, dan pakaian yang basah kuyup! Tetapi jalan ini membutuhkan biaya, dan biaya yang sangat besar! Warga Bandung sejati, tunjukkan kebanggaan dan minat Anda pada kota pegunungan kita dengan memberikan kontribusi Anda untuk percepatan realisasi dan penyelesaian jalan baru ini!

Iklan di majalah bulanan Mooi Bandoeng. Menggalang dana untuk pembangunan jalan alternatif Paseh-Kamojang.