


Dalam peta lama, Krapyak merupakan ibu kota Kabupaten Bandung abad ke-18. Berada di pertemuan antara Ci Kapundung yang mengalir dari arah utara. Kemudian Ci Tarum yang hulunya di Cisanti. Bertemu disekitar Dayeuhkolot sekarang.
Pada peta lama, bagian selatan Dayeuhkolot merupakan dataran rendah yang ditempati sawah yang luas. Merupakan dataran banjir dari Cijagra, ke arah selatannya hingga Haurgeulis. Kondisi banjir bukan kejadian baru, namun Belandapun telah beberapa kali melaporkan banjir dikala hujan deras. Dalam peta Rawan Banjir, Bakosurtanal tahun 2008. Memberikan gambara jelas sebaran banjir. Berupa garis merah pada peta tersebut, mulai dari Baleedah hingga ke arah utara ke Dayeuhkolot. Ke arah timurnya dibatasi Bojongsoang, sering mengalami banjir musiman.
Dengan demikian, kondisi alam sekitar Dayeuhkolot tidak mendukung penbembangan pusat pemerintahan. Sehingga pada awal abad ke-18 mulai direncanakan pemindahan.
Seiring pembangunan Jalan Raya Pos 1808-1811, Daendels memerintahkan pemindahan ibu kota ke arah utara. Perintah pemindahan tersebut sebenarnya telah direncanakn oleh bupati saat itu. R. A. Wwiranatakusmah II (1794-1829), disebut juga Dalem Kaum I, memindahkan pusat pemerintahan ke arah utara. Sekitar 11 km dari Dayeukolot, ke Cikalintu atau sekitar Cipaganti saat ini, kemudian digeser ke arah selatan sekitar Balubur Hilir. Selanjutnya dialihkan ke Kampung Bogor atau Kebon Kawung, di Gedung Pakuan saat ini.
Walaupun keukuasaanya kurang lebih 3.5 tahun, Daendels mampu membuat infrastruktur. Temasuk memuat perubahan secara drastis, pandangan hidup budaya Sunda. Dari budaya sungai, kemudian semuanya dialhkan ke tepi jalan utama.