Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur merupakan saksi dahsyatnya letusan G. Gede. Bangunan mewah masa kolonial, sekitar 1740,  didirikan sejak pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, sebagai tempat tetirah para pembesar penguasa Hindia Belanda. Istana megah yang berada di lereng sebelah timurlaut G. Gede-Pangrango, setara dengan Camp David di Amerika. Sama-sama digunakan sebagai tempat untuk beristirahat, sekaligus sebagai sarana perundingan.

Istana tersebut dibangun di atas pelamparan aliran lahar Ciwalen. Hasil kegiatan letusan G. Gede Muda, sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu. Dicirikan dengn batuan penyusunnya adalah endapan lahar, berupa komponen andesit, batu apung yang bersudut, kerikil bongkah dalam masa dasar lumpur. Ditemui juga beberapa potonga kayu dan arang di daerah Ciwalen. Aliran lahar tersebut mengalir jauh dari pusat letusan, ke arah timurlaut dan tenggara. Kondisi demikian menandakan bahwa suatu saat nanti, bila terjadi letusan besar akan melanda kembali wilayah ini.

Mungkin saja para pembangun istana pada waktu itu sudah lupa, bahaya gunungapi. Apalagi  kegiatan G. Gede diklasifikasikan sebagai gunungapi kelas A. Menandakan bahwa G. Gede adalah gunungapi aktif di abad modern. Catatanya aktivitas kegunungapiannya terekam dengan baik sejak tahun 1600. Dengan demikian gunungapi ini sewaktu-waktu bisa meletus kembali.

Catatan paling awal didokumentasikan pada 1747, setara dengan skala Volcanic Explosive Index (VEI) 3. Berupa aliran lava dari kawah Lanang, kemudian membentuk sumber mata air panas.

Selanjutnya secara berturut-turut menunjukan aktivitasnya, melalui letusan tahun 1761, 1780 dan 1832. Pada 12 November 1840 gunungapi ini meletus dalam ukuran besar, berupa letusan eksplosif. Aktivitasnya menurun dan reda menjelang bulan Maret 1841. Akibat ancaman letusan gunungapi ini menjadi alasan untuk memindahkan ibu kota pada saat itu. Ibu kota Kerisedan Priangan yang semula di kota Cianjur saat ini, kemudian dipindahkan ke Kota Bandung.

Kegiatan letusan terus berlansung hingga pascakemerdekaan. Peningkatan terjadi pada 13 Maret 1957. Kemudian berlanjut dari 1940 sampai dengan 1950. Letusan terakhir terjadi 1972, kemudian gunungapi dalam keadaan fase istirahat panjang hingga kini. Kegiatan kegunungapiannya terus di pantau, melalui Pos Pengamatan Gunungapi Gede Pangrango. Berada di sebelah timurlaut, tepatnya di dataran tinggi Ciloto, Cipanas.

Melalui Kementerian ESDM, kemudian mengeluarkan peta Kawasan Bencana Gunungapi Gede (Hadisantono, dkk., 2008). Upaya mitigasi dan memberikan gambaran kawasan yang terdampak secara langsung atau bahaya susulan.

G. Gede memiliki ketinggian  2958 meter dpl. memiliki makna besar, dalam bahasa Sunda. Seperti halnya gunungapi di Jawa Barat, gunungapi ini dikategorikan gunungapi strato. Dicirikan dengan perlapisan selang-seling antara lava dan piroklastik. Tersingkap dengan baik pada dinding kawah Ratu. Bentuk depresi khas kawah yang terbuka ke arah baratlaut, menandakan adanya zona lemah berarah dari tenggara ke baratlaut.

Bentuknya khas karena berdampingan dengan kerucut Pangrango. Terutama bila dilihat dari arah Cipanas, Cianjur. G. Pangrango 3019 meter dpl., berada di sebelah utara, dan G. Gede berada di bagian selatannya. Sebagian besar lerengnya ditempati villa dan hotel komersial, seiring dengan rumah warga dan perkebunan yang semakin mendesak ke arah puncak.

Dari arah timur bentuknya menyerupai perahu terbalik, menandakan pusat letusannya berpindah-pindah, berarah baratlaut-tenggara. Diantaranya Kawah Lanang, Kawah Wadon, Kawah Baru, Kawah Leutik, dan Kawah Ratu sebagai kawah utamanya. Menerus ke arah utara (sebelah kiri gambar), adalah jajaran pegunungan dan perbuktan Gunung Luhur +1745 m, Gunung Kencana +1803 m, Gunung Gedongan +1888 m, dan Gunung Halimun +1632 m (RBI Lembar Cisarua, 1998). G. Gede merupakan gunungapi aktif, terakhir meletus 1957 berupa awan letusan membumbung tinggi hingga 3 km (Hadikusumo, 1957).

Bila diteliti dari sebaran batuan gunungapi yang diendapkan dipermukaan, bisa dirunut kembali sejarah pembentukan gunungapi ini. Susunan batuan hasil kegiatan gunungapi tersebut, kemudian disusun berdasarkan dari yang tua  ke muda. Membentuk bidang perlapisan yang disebut satuan endapan batuan vulkanik atau vulkanostratigrafi. Bidang perlapisan hasil endapan produk gunungapi tersebut memberikan informasi waktu, jenis letusan hingga durasi yang terjadi.

Dari data endapan gunungapi, kemudian diuraikan bahwa sejarah pembentukan G. Gede dibagi ke dalam tiga kali pembetukan. Periode pertama pembentukan G. Masigit Pangrango, G. Gumuruh atau generasi pertama pembentukan G. Gede. Kemudian terakhri adalah pembentuka G. Gede yang hadir hingga saat ini. Dengan demikian G. Masigit Pangrango, atau bagian dari pusat letusan G. Pangrango dalam satu sistem gunungapi dengan G. Gede.

Kegiatan kegunungapian dimulai pada fase pertaman pembentukan kerucut G. Limo. Bila dicek pada peda saat ini, merupakan lingkar kaldera bagian dari G. Pangrango. Setelah padam kemudian disusul fase ke-dua, pembentukan G. Lingkung yang tumbuh di dalam lingkar kaldera G. Limo dan G. Gede Tua. Aktivitas G. Lingkung kemudian berakhir, membentuk kawah tapal kuda dengan bukaan ke arah baratdaya. Dari dinding kawah bagian timur laut kemudian lahirlah G. Pangrango. Kemudian kegiatan kegunungapian bergeser ke arah selatan, menuju pusat letusan G. Gede saat ini.

Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, dimulailah kegiatan kegunungapian Gede. Terbagi menjadi dua fase, yaitu G. Gede Tua  atau G. Gumuruh yang ditandai dengan kawah tapal kuda dan longsoran material ke arah tenggara. Saat ini bisa dikenali dengan lingkarnya sekitar Alun-alun Suryakencana. Hasil longsoran tersebut kemudian membentuk perbukitan 777, tersebar hingga Babakan Lamping. Kemudian disebelah selatannya dibatasi Cibeber, ke arah utaranya sekitar Karangtengah dan bagian baratnya dibatasi jalan Raya Cianjur-Sukabumi atau sekitar Sirnagalih. Keberadan perbukitan tersebut sebagian telah hilang, akibat kegitan penambangan batu. Seperti di daerah Sirnagalih, Cilaku yang kini telah hilang akibat kegiatan penambangan. Luas kawasannya 13 x 17 km, dibatasi Ci Laku dan Ci Sokan (T Bachtiar, 2023).

Di dalam kawah tapal kuda hasil kegiatan letusan G. Gede Tua yang terbuka ke arah tenggara. Kemudian terbentuk G. Gede Muda di bagian utara. Kegiatan letusannya mengalirkan seluruh rempah gunungapi ke arah utara, mencirikan bidang lemah terbentuk ke arah yang sama.

Gunungapi umur Kuater ini secara terus-menerus dipantau, melalui Pos Pengamatan Gunungapi di Ciloto. Pemantauan tersebut merupakan upaya mitigasi, kepada masyarakat yang mendiami di sekitar lereng gunungapi. Terutama di kawasan padat penduduk, seperti di daerah Cipanas, Cipendawa, daerah Cimacan-Bondol Bogor. Begitu juga dengan sisi sebelah baratdaya, diantaranya Situgunung hingga, Salabintana Sukabumi. Parameter buffer rawan bencana bisa mencapai hingga 20 km., menyebar ke arah timur dan tenggara. Dalam peta kawasan rawan bencana (Hadisantono, 2008), membagi menjadi tiga daerah bahaya. Diantaranya Kawasan Rawan Bencana atau disingkat KRB III yang selalu terancam dengan aliran awan panas, gas racun dan aliran lava. Kawasan ini berada dalam lingkar dalam, atau radius 1 km dari pusat letusan. Kemudian KRB II berpotensi hadirnya aliran awan panas, lava dan lahar hujan. Kemudian radius yang lebih jauh dari pusat letusan, disebut KRB I akan terdampak alira lahar hujan.

Selain bahaya gunungapi, G. Gede-Pangrango memberikan manfaat kepada warganya. Terutama ketersediaan air bersih. Namun perlu ditata sebaik mungkin, mengingat saat ini perkebunan dan hunian kian mendesak ke arah puncak. Sehingga daerah resapan air yang berada di elevasi di atas 2000 m dpl. harus dilindungi. Selain itu perlu penghijauan kembali daerah gundul, selain menjadi jalan masuknya air termasuk mengurangi dampak gerakan tanah di kawasan lereng..

Panorama Gunung Gede-Pangrango, pandangan ke arah baratdaya