Berangkat dari kota Sumedang, melesat ke arah utara, melalui jalan utama penghubung antar kecamatan. Tiba di Masjid Tegalkalong, kemudian berbelok ke arah timur menuju Situraja. Dari persimpangan ini, Tegalkalong merupakan pusat pemerintahan masa di bawa pengaruh Mataram Islam abad ke-17. Dicirikan dengan tata ruang Catur Gatra, mengadopsi konsep Keraton. Karakteristiknya berupa lapangan luas di bagian tengah, kemudian dikelilingi oleh bangunan strategis. Diantaranya pusat pemerintahan berupa Pendopo di sebelah selatan, kemudian masjid sebagai simbol keagamaan. Pusat perekonomian yang diwakili oleh pasar, dan penjara sebagai simbol hukum. Dalam konsep kosmologi Jawa, biasanya berdiri pohon beringin kembar di tengah-tengah lapangan. Sebagai simbol pengayoman, kekuatan dan kesatuan antara pimpinan dan rakyat. Keberadaannya masih sama, tidak ada perubahan, namun pohon beringin sudah tidak ada.
Dari percabangan Tegalkalong ini ditandai oleh satu-satunya masjid yang menyaingi masjid utama di alun-alun Sumedang saat ini. Walaupun ukurannya tidak sebesar masjid utama Sumedang, namun menyimpan sejarah kelam yang terjadi sekitar tiga abad yang lalu. Peristiwa serangan Banten pada 1680, dalam waktu singkat. Terjadi pada saat para pembesar pejabat kabupaten, sendang menunaikan ibadah shalat Idul Fitri, di Masjid Tegalkalong. Dalam momen tersebut, dilakukan penyergapan yang dimotori oleh pasukan Banten, dibantu pasukan umbul Bandung dan umbul Sukapura, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Kabupaten Sumedang pada saat itu. Dalam penyerangan tersebut, jatuh beberapa korban dari kerabat menak Sumedang, sedangkan Pangeran Panembahan Rangga Gempol III berhasil kabur ke Indramayu. Sekembalinya dari pengasingan, Rangga Gempol III merebut kembali Sumedang. Peristiwa tersebut dikenang sebagai Palagan Masjid Tegelkalong. Bentuk masjidnya tidaklah terlalu besar, namun menjadikannya masjid istimewa dalam caratan sejarah Priangan. Selain itu, merupakan masjid pertama yang didirikan di Sumedang utara, saat Kerajaan Sumedang menerima Islam sebagai tuntutan hidup.
Dari Masjid Tegallkalong, kemudian mengarah ke Situraja. Sekitar Ganeas, hamparan sawah yang luas hingga sejauh mata memandang. Sebelah utaranya dibatasi Ci Peles, sungai yang hulunya di Sukasari, kemudian bergabung dengan Ci Manuk. Keberadaan sawah-sawah tersebut, merupakan bukti politik agraria Mataram. Saat Sumedang berada di bawah kerajaan Jawa pada 1620., menurunkan status kerajaan menjadi setingkat kabupaten pada saat itu.
Melaju ke arah Situraja, kemudian berbelok di Jatimekar, hingga Cisitu. Pemandangan bersalin rupa, jajaran perbukitan di sebelah utara. Memanjang relatif timur-barat. Diantaranya Pasir Dodgdog, Pasir Laja, dan Pasir Cadasgantung.
Sekitar Sudapati ke arah utarra, bertemu dengan kelompok perbukitan di sekitar Pajagan. Satuan perbukitan ini berhadapan langsung dengan poros bendungan Jatigede, kemudian ditoreh oleh Ci Manuk. Pengalirannya ke arah utara, tetapi dibelokan oleh G. Banen ke arah barat, kemudian melingkari G. Pakayuan.
Perbukitan tersebut berhadapan langsung dengan poros waduk. Menandakan poros bendungan tersebut memanfaatkan jajaran perbukitan, sebagai benteng alami bendungan. Perbukitan tersebut merupakan sistem Sesar Baribis, di segmen Jatigede. Dibatasi oleh tinggian Pasir Cadasgantung 463 mdpl. kemudian berjajar ke arah barat, diantaranya Pasir Jeungjingtujuh, Pasir Pareugreug.
Jalan tersebut menghubungkan dari sisi barat ke timur, melalui poros waduk Jatigede. Kemudian melintasi pengaliran (sungai) Ci Manuk, dari pintu air poros Waduk Jatigede. Disebut outlet dam, berupa sistem struktur atau pintu air. Saluran bendungan yang berfungsi untuk mengalirkan atau mengatur ketinggian paras air di waduk. Berfungsi untuk menahan air, untuk mendapatkan paras air yang ideal. Terutama untuk memberikan kebutuhan pasokan air ke pipa pesat, menggerakan turbin
Wacana pembangunan waduk Jatigede lahir sejak masa kolonial. Berupa rencana pembendungan Ci Manuk, untuk keperluan irigasi di kawasan lebih ke hilir. Kemudahan memasuki pemerintahan Indonesia, 1963 menggagas kembali tetapi tidak berlanjut. Akibat kondisi politik dan sosial saat itu, sulit untuk melaksanakan kegiatan pembangunan. Selanjutnya hadir kembali, dan digarap secara serius melalui kajian konsultan dari luar negeri. Dikerjakan antaran tahun 1967 hingga 1980. Kemudian pembangunan mulai direalisasikan melalui pembangunan konstruksi fisik, dimulai antara 2007 hingga 2008. Selanjutnya dilakukan penggenangan, melalui penutupan saluran pengelak, 31 Agustus 2015. Dua tahun kemudian, Waduk Jatigede benar-benar beroperasi, pada 2017.
Keberadaan perbukitan tersebut menerus dari Pajagan, ke arah timur hingga Cimanintin, batas antara Sumedang dan Majalengka. Ekspresi morfologi bumi tersebut adalah perbukitan terlipat, dan tersersarkan. Bagian dari sistem Sesar Baribis, memanjang dari bagian barat Jawa hingga bagian Timur. Disebut Sesar Baribis-Kendeng. Merupakan sesar mayor yang membentang sepanjang pulau Jawa. Mulai dari wilayah Subang, melalui Purwakarta, Sumedang, Majalengka hingga Kuningan. Kemudian berlanjut ke arah Jawa Tengah hingga Gorobona, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Bojonegoro sampai paling timur di Lamongan.
Menapaki jalan Cipicung, Ciawi hingga Cimanintin, merupakan perjalanan menunggangi punggungan perbukitan. Berjalan di bagian puncak perbukitan, menapaki bukti perbukitan yang terlipat, dan naik. Terbentuk akibat kegiatan tektonik, dari arah selatan mendorong ke utara. Peristiwanya terjadi sejak 5 hingga 2 juta tahun yang lalu, membentuk pegunungan yang memanjang relatif baratlaut – tenggara. Karena begitu panjang, kompleks dan besar, hingga ujung Jawa. Saat ini disebut Java Back-arc Thrust Fault, atau sesar busur belakang Jawa. Salah satunya Sesar Baribis segmen Jatigede, Cimanintin hingga Majalengka.



