Berikut ini adalah artikel dari majalah mingguan Eigen haard; geïllustreerd volkstijdschrift, Nomor 8, tahun terbit 25 Februari 1911. Mewartakan tentang gempa bumi yan terjadi di Cipatat, Padalarang. Menyebabkan rusaknya jalur kereta api koridor barat, dari Cipatat ke Padalarang, Bandung.

Para pembaca kami pasti masih ingat, bahwa dalam majalah ini, tahun 1900, halaman 61–63, Tuan De Balbian Verster memberikan gambaran menarik mengenai gempa bumi yang saat itu melanda Preanger. Salah satu pelanggan kami kini mengirimkan kepada kami foto-foto indah, yang direproduksi di samping ini, dan dikirimkan kepada kami oleh Tuan Van Soest di Bandung, mengenai gempa bumi yang pada awal Januari lalu menimbulkan banyak kerusakan di sekitar Bandung. Terutama jalur kereta api di Cipatat yang paling parah terkena dampaknya. Bangunan stasiun hancur total, terutama bangunan yang disusun oleh batu. Karena sifat konstruksinya, mengalami kerusakan paling parah. Struktur bangunan pos jaga dan bangunan tangki air juga mengalami kerusakan.

Tangki air yang berada di atas bangunan, ikut bergerak menyebabkan airnya jatuh menimpa atap bolong. Sehingga bagian dalam rumah dinas basah. Di sekeliling halaman rumah, dipenuhi ioleh pecahan genteng yang jatuh. Berserakan memenuhi halaman rumah dinas.

Rumah dinas tersebut menyimpan perolengkapan kantor. Walaupun terlihat masih utuh, namun akan sangat berbahaya bila berada di dalamanya. Sehingga lebih baik berada di luar ruangan, tempat terbuka yang aman.

Di tempat rel berbatasan dengan lereng gunung, hanya terlihat retakan memanjang di tanah dan sedikit penyimpangan. Namun, di tempat di mana jalur tersebut meninggalkan punggung gunung untuk melintasi jurang yang dalam melalui tikungan di atas tanggul rel yang tinggi (hasil kerja manusia), kerusakan mulai terlihat.

Di mana-mana terdapat penurunan tanah dan retakan, dan di tengah gundukan tersebut, rel beserta bantalan rel menggantung di udara sepanjang sekitar 50 meter. Akibat gempa bumi tersebut, lapisan setebal beberapa meter di sisi kanan tergeser ke bawah ke dalam jurang, menyeret puncak tanggul rel bersamanya. Dan tampaknya hal itu terjadi dengan sangat merata. Lapisan basal dan batu yang menjulang ke atas seperti tangga di sepanjang tanggul telah tergelincir bersama lapisan tanah dan kini tergeletak rapi di dataran di bawahnya. Sebuah tiang telepon masih berdiri di dalam lapisan tanah tersebut, namun kini 30 meter lebih rendah daripada kemarin. Kabel telepon itu sendiri tetap utuh, hanya saja menggantung sedikit lebih kendur; tiang tersebut telah terlepas dari isolator porselennya. Di sebelah kiri, sebagian tanggul tetap berdiri seperti punggung gunung. Sebuah jalan setapak telah digali di lereng miring tersebut, sehingga orang masih bisa menyeberang ke sisi lain di mana rel kereta api kembali dalam kondisi baik, di mana rel tersebut berlanjut di sepanjang dinding gunung. Hasil karya tangan manusia saja telah hancur dalam sekejap.

Hampir saja terjadi kecelakaan kereta api. Kereta pertama dari Bandung ke Padalarang tiba tepat waktu di titik yang terancam oleh gempa bumi. Seandainya jalur kereta api tersebut sepenuhnya lurus, akan sulit untuk menyadari tepat waktu bahwa ada bagian yang ambles. Namun, di lokasi tersebut terdapat tikungan, sehingga kemungkinan kereta melaju lurus ke jurang yang menganga menjadi semakin besar. Namun, hal itu tidak terjadi, dan terhindarnya bencana semacam itu semata-mata berkat tindakan berani seorang penduduk setempat yang berada di dekat lokasi tersebut. Demikianlah yang diceritakan kepada seorang redaktur surat kabar Preanger Bode. Begitu ia menyadari bahwa ada kereta yang mendekat, ia dengan berani memanjat tanggul, setelah sebelumnya melepas celana berwarna merah yang kebetulan ia kenakan, yang kemudian ia ayun-ayunkan dengan riang. Hal ini tentu saja menarik perhatian masinis, yang tidak ragu-ragu untuk menginjak rem.