Jauh sebelum fotografi lahir, para peneliti lapangan dan kegiatan survey mengandalkan keahliannya membuat sketsa, sebagai penunjang laporan penelitian. Sketsa tersebut merupakan interpretasi yang subjektif, sehingga didudukan sebagai laporan bersifat ilustratif saja. Sketsa tersebut kemudian menghiasi karya publikasi bersanding dengan teks dan direproduksi melalui teknik cetak lithografi, atau teknik cetak ulang yang bisa diandalkan pada masa itu khususnya untuk menampilkan gambar ilustrasi.
Namun kelemahan sketsa adalah sebagai interpretasi personal pembuatnya, sehingga menjadi sulit bila didudukan sebagai bahan interpretasi visual. Teknik lawas yang dikenalkan Alois Senefelder 1789, kemudian digantikan oleh teknik perekaman yang lebih akurat. Dikenalkan ke dunia 1839 melalui laporan sidang ilmiah oleh Francois Arago di hadapan parlemen Perancis, ia memperkenalkan teknik rekam permanen disebut proses Daguerreotype. Selain mampu menampilkan akurasi tinggi, teknik rekam ini memangkas proses pembuatan sketsa.
Berabad-abad kemudian teknik rekam ini menjadi populer dikalangan pelaku survey lapangan, karena bisa menghasilkan gambar pemandangan dengan detail rekaman yang sangat tinggi. Teknik ini kemudian dikenal dengan nama heliograph atau gambar yang terbentuk oleh cahaya matahari, seiring waktu disebut fotografi. Dalam teknisnya memerlukan kotak gelap disebut obscura, dan proyeksi cahaya melalui lensa yang berfungsi mengendalikan intensitas pencahayaan. Cahaya jatuh ke bidang gambar kemudian “membakar” atau mengekspos media plat kaca yang dilapisi larutan perak peka cahaya. Eksposur tersebut menghasilkan bayangan gelap dan terang berupa perwujudan objek, hasilnya berupa citra negatif atau sebaliknya.
Teknologi tersebut hadir di Indonesia 1841 melalui Jurrian Munich, seorang dokter medis yang diserahi tanggung jawab untuk mendokumentasikan tinggal arkeologis Hindu-Budha di beberapa wilayah Jawa. Namun pekerjaannya dianggap gagal karena air raksa yang digunakan untuk melapisi plat kaca fotografi, mudah menguap karena lingkungan tropis yang lembab dan panas. Kegagalan tersebut menjadi perhatian pionir fotografi selanjutnya, memilih komposisi kimia dan proses yang berbeda. Diantaranya Kleingrothe yang mengkhususkan dirinya pada pemotretan budidaya tanaman tropis. Lastly dan Nieuwenhuis lebih mendekatkan pada pendokumentasian visual masyarakat tradisi, yang memberikan gambaran dan perangkat budaya yang muncul di beberapa publikasi tentang keberhasilan daerah penaklukan.
Seorang petualang, kartographer dan ahli medis dalam laporan buku Reise Durch Java 1845, Franz Wilhelm Junghuhn melukiskan keelokan morfologi bentang alam Jawa, melalui karya lukisan gaya naturalis kemudian dicetak menggunakan proses litografi. Buku tersebut cikal bakal penelusuran dalam bentuk “laporan pandangan mata” yang mengetengahkan bentukan alam dan tinggalan budaya di pulau Jawa. Kemudian 1860 muncul foto portrait Junghuhn, yang kemungkinan swafoto menggunakan fitur waktu tunda (self timer) di kameranya. Bisa dikatakan kehadiran kamera mulai diadaptasi Junghuhn beberapa tahun sebelum 1858 melalui pelajaran singkat yang didapat dari Isidore van Kinsbergen. Ia adalah seorang ahli lukis dan seni peran yang jatuh cinta dengan keelokan Indonesia. Isidorus tiba 1851 di Batavia bersama lawatan seni opera Perancis, melanglang ke beberapa kota di Jawa, kemudian memutuskan untuk menetap di kawasan kota Batavia (Harmoni, Jakarta), dan membuka usaha fotografi pertama dengan teknik cetak Albumen. Teknik proses fotografi terbaru dari Eropa dan menggunakan kamera kayu yang dikenal sangat bobotnya yang sangat berat dan harus menggunakan tripod sebagai alat bantu, yang digunakan oleh Junghuhn. Isidorus lah yang membantu penyediaan dan alih pengetahuan fotografi ke Junghuhn.
Kepulangan Junghuhn ke Jawa setelah beberapa tahun tetirah di Belanda, mendorongnya mendokumentasikan budidaya kina di lereng gunung Malabar dan gunung Tangkubanparahu. Kamera dan perlengkapan proses kamar gelap dan perlengkapan larutan kimia, ia bawa dari Eropa 1855. Beberapa karyanya masih tersimpan dengan baik di koleksi digital perpustakaan Universitas Leiden Belanda berupa file digital yang bisa diunduh. Kemudian beberapa koleksi lainya didapati di Organisasi Commons Wikimedia, berupa file-file foto hasil pemotretan dari 1855 hingga 1860, empat tahun sebelum ia meninggal dunia di Jayagiri, Lembang. Aktivitas fotografi yang dilakukannya berkaitan dengan kesibukannya sebagai peneliti budidaya Kina. Beberapa gambar berupa perkebunan Kina di sekitar Lembang, perkebunan kina di Malabar dan foto-foto keluarga, yang kemungkinan di ambil orang lain. Selain itu didapati juga foto Bupati Bandung yang diambil kurang lebih tahun 1860-an di Lembang. Bisa dikatakan aktivitas fotografi Junghuhn sangat dibatasi kondisi fisik tubuhnya karena mengidap penyakit liver. Dalam praktek pemotretan, tentunya ia sangat membutuhkan bantuan asisten untuk membawa dan mempersiapkan kamera kayu, serta membantu dalam proses kamar gelap. Di beberapa sumber digital online, karya fotografinya tidaklah terlalu banyak. Selain ia menggunakan kamera di penghujung karir, juga karena mengidap sakit menahun.
Melangkah beberapa tahun kemudian, ahli gunungapi masa kolonial Stehn, Ch. E menuliskan laporannya dengan judul The geology and volcanism of the Krakatau Group, yang disampaikan dalam pertemuan ke-empat Kongres Ilmu Pengetahuan di Batavia, 1929. Laporan ilmiah tersebut memuat beberapa foto berupa aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau meletus sejak 1927. Foto hitam putih yang disandingkan dalam laporan ilmiah tahun 1933, menggambarkan bangkitnya gunung Anak Krakatau yang muncul dari dasar laut Selat Sunda, di lingkar kaldera Krakatau setelah letusan 1883. Stehn tidak menggunakan jenis kamera format besar, seperti yang digunakan Junghuhn, melainkan kamera ringkas, format 135 mm atau setara dengan bentuk kamera populer digital lensa rana tunggal. Namun yang membedakannya adalah masih menggunakan media film seluloid roll negatif. Selain bentuk kamera ringkas tersebut, pada masa tersebut dikenal jenis kamera sejuta umat masa itu, disebut Brownie Camera merk Kodak. Kamera ini sangat populer pada masa itu, dan biasanya digunakan para pelancong dari Eropa saat melawat ke Hindia Belanda. Selain mudah dioperasikan, jenis kamera ini dianggap murah pada masanya, karena tidak memerlukan perhitungan perbandingan terbalik eksposur dan diafragma. Kemudahan demikian mendorong fotografi menduduki porsi penting, sebagai laporan pendamping penelitian lapangan hingga kegiatan survey, karena kamera mudah sekali dioperasikan. Bahan visual (fotografi) tersebut kemudian menjadi sumber interpretatif kondisi eksisting, dan biasanya disertakan dengan keterangan gambar yang bersifat deskriptif. Memasuki awal abad ke-19 fotografi diterima sebagai materi asesmen penelitian lapangan.
Pada masa kolonial peran pengambilan foto diserahkan kepada ahli fotografi. Karena kemampuannya dan tanggung jawabnya mampu menghasilkan estetika yang baik, dan kecakapan mengoperasikan kamera. Sebut saja diantaranya Jean Demmeni, 1911 diperintahkan melalui permintaan kerja komisi (commision work) mendokumentasikan dataran tinggi Dieng. Kemudian Johannes Elbert mendokumentasikan kepulauan Flores selama dua tahun 1911 hingga 1912. Sebelumnya Cornelis Marinus Pleyte menggambarkan Pasar Gambir 1906 lengkap dengan masyarakatnya. Pada masa yang sama di Jawa Barat, kehadiran Thilly Weissenborn termasuk penting di pendokumentasian fotografi, mengkhususkan pada mengabadikan ragam bentang alam Priangan pada masa kolonial (1910-1942). Thilly merupakan fotografer perempuan pertama masa pendudukan Belanda, sering mendapatkan pekerjaan pesanan pemerintah kolonial, mendokumentasikan wisata Jawa dan Bali, diantaranya gunungapi aktif di Jawa Barat.
Para pengamat gunungapi menggunakan media fotografi sebagai sarana pelaporan, sama halnya pengamatan gunungapi Tambora. Foto dibutuhkan sebagai bahan dasar kondisi terkini, disertakan dalam bentuk pelaporan berkala. Oleh para ahli gunungapi data tersebut diolah melalui interpretasi. Bukti foto turut membantu memberikan penjelasan visual, disusun dalam pelaporan bersifat teknis. Hasil foto tersebut digunakan sebagai pendamping laporan visual. Data tersebut kemudian diinterpretasikan dengan data teknis, guna menunjang pengamatan aktivitas gunungapi. Selain alat bantu foto, pengamatan secara real time menggunakan alat bantu kamera cctv dan diakses melalui pemancar yang ditanam di beberapa titik mendekati atau menjelang puncak gunungapi. Foto mampu mengungkapkan keakuratan data visual, misal kenampakan solfatara dan fumarol. Bahkan dalam teknologi terbaru mampu membaca suhu dan susunan gas kimia gunungapi. Laporan tersebut dikirim ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi, sebagai pendamping laporan teknis untuk diinterpretasi. Hasil laporan sebelum kehadiran fotografi masih bersifat deskriptif dan teknis, seperti yang tertuang dengan laporan Zollinger yang menyambangi Gunung Tambora 32 tahun setelah letusan maha dahsyat. Laporan pertama ini disampaikan dalam bentuk deskriptif, menceritakan saat-saat mendaki tubir kaldera, yang masih berupa hamparan endapan aliran awan panas. Tugasnya ditunjuk oleh Kerajaan Belanda sebagai kolektor tanaman resmi di negeri kepulauan Hindia Belanda 1842.
Di laporannya tahun 1812, Zollinger menuliskan kenampakan asap tebal dari bagian kawahnya, dan 5 April 1815 sudah menunjukan tanda-tanda letusan melalui suara gemuruh yang terdengar hingga Ternate dan Batavia (Jakarta). Kemudian puncaknya selama dua hari 10 dan 11 April 1815 terjadi letusan paroksismal. Di tahun tersebut fotografi belum lahir, sehingga laporan yang disampaikan melalui teks, diantaranya dituliskan dalam kisah raja-raja (Kesultanan) Bima, dalam buku Bo Sangaji Kai. Di daftar pustaka gunungapi di PVMBG menyebutkan penelitian awal dilaporkan Adnawidjaja, M.I., dan Chatib, M., 1951, Laporan Kawah G. Tambora (Jazirah Utara P. Sumbawa) April-Mei-Juni; Bandung: Direktur Vulkanologi dan tidak dipublikasikan. Kemudian tahun 1995 dilakukan pemotretan udara kondisi eksisting kaldera oleh Chaniago, R., Effendi, W., Suhadi, D., Yuhan, Budianto, A. dan Kusdaryanto, 1995, Laporan Interpretasi Potret Udara G. Tambora dan Sekitarnya. Penelitian awal masih menyajikan data-data foto hitam putih Gunungapi Tambora, dan belum dipublikasikan. Pada saat kegiatan survey awal zaman kemerdekaan Republik Indonesia, kamera merupakan benda mewah dan mahal, sehingga data-data visual yang berkaitan penelitian gunungapi Tambora sangat sedikit. Hanya organisasi atau lembaga tertentu yang memiliki akses. Diantaranya dilakukan oleh Kementrian Penerangan pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II 1956-1957, melalui biro regional yang bekerja di wilayah tertentu. Biro ini menghasilkan foto-foto peristiwa, termasuk pendokumentasian fotografi sebagian gunungapi di Indonesia.
Para pionir fotografi berlomba merekam peristiwa alam, karena laporan visual tersebut sebagai data dasar interpretasi tentang pembentukan dan proses alam yang masih berlangsung hingga kini. Satu persatu ahli fotografi tidak saha menampilkan estetika, tetapi mengarah kepengembangan teknologi, teknik merekam yang belum ada di masa kelahiran fotografi, kemampuan menangkap spektrum cahaya kasat mata. Dengan demikian fotografer masa depan memiliki keterampilan lebih, seiring perkembangan jaman, menggantikan kamera kayu yang berat, menjadi serba ringkas dan murah dioperasikan.