Conggeang, Sumedang berada di sebelah timurlaut G. Tampomas. Dari sisi sejarah bumi, ditandai dengan batuan tertua Umur Miosen hingga Resen. Di lereng utara G. Tampomas ditempati perbukitan yang ditutupi vegetasi lebat hutan. Disusun oleh endapan batuan gunungapi, diantaranya perselingan piroklastik dan lava. Batuan endapan gunungapi ini membawa air (akifer), muncul dalam bentuk mata air kontak. Hadir melimpah sepanjang masa, walaupun masuk dimusim kemarau. Dibeberapa tempat, kemunculan mata air tersebut memiliki suhu lebih tinggi dari suhu sekitar. Terkonsentrasi di sekitar Conggeang, sebelah timurlaut dan utara G. Tampomas.

Ke arah utaranya merupakan dataran rendah, dibatasi oleh perbukitan Cikamurang (Cikamurang high), sekitar Cipelang. Sebagian besar ditempati oleh sawah warga, mulai dari Ujungjaya hingga berbatasan dengan jalur Tol Cikopo-Palimanan. Disebut dataran aluvial, ditandai dengan

Membaca kembali data lama, dari beberapa peta yang dikonservasi oleh perguruan tertua di negeri Belanda, Universiteit Leiden. Diantaranya data-data tertulis, rekaman gambar hingga lembaran peta yang telah didigitalisasi. Diantaranya peta lama 1909,

Perubahan lingkungan terasa, semenjak pembangunan jalan Tol Cisumdawu. Dampaknya terasa langsung, diantaranya terdampaknya perkebunan warga di sekitar Cacaban. Akibat tumpukan material tanah, hasil cut and fill area rest area Cisumdawu segmen Cacaban, Conggeang. Di sebelah utaranya adalah Desa Ungkal yang dikenal dengan makam keramat Ungkal. Situs tinggalan budaya berupa pemakaman leluhur Ungkal, diduga masih ada keterakaitan dengan peristiwa serangan Mataram ke Batavia pada abad ke-17.

Cacaban
Berita 28 November 2024, melaporkan kejadian longsor di wilayah Cacaban, Conggeang. Berupa aliran lumpur yang terlarut dengan air, mengakibatkan menimbun sebagian ladang pertanian warga. Terjadi akibat penimbunan tanah hasil kegiatan pembangunan rest area sekitar Blok Jembatan Kadongdong. Mengakibatkan terputusnya jalur penghubung Desa Cacaban ke Desa Ungkal, dengan panjang longsoran hampir 100 meter. Sebagian besar material nya turun hingga sungai Cacaban di sebelah utara jalan Tol Cisumdawu.

Gerakan tanah atau longsor ini terjadi dipicu oleh curah hujan tinggi di akhir tahun, kemudian berulang di tahun 2025. Hujan deras meningkatkan bobot tanah dan tekanan pori, sehingga memicu aktivasi bidang gelincir di lereng yang sudah rapuh. Sebelumnya dikondisikan oleh faktor batuan penyusunnya, berupa lempung. Lereng di sekitar Cacaban–Conggeang umumnya terbentuk dari batuan vulkanik muda yang mudah lapuk, dengan lapisan tanah tebal dan permeable atas lapisan kedap air, sehingga berperan sebagai bidang gelincir.

Kondisi penumpasan dan minimnya penghijauan, mengakibatkan turut membantu percepatan kejadian gerakan tanah. Banyak bagian lereng yang terbuka/tidak terlindungi vegetasi berakar dalam, sehingga tanah lebih mudah terbawa air dan tidak terikat dengan baik.

Kondisi demikian perlu penangan segera, sebelum memasuki musim hujan berikutnya. Diperlukan pembangunan drainase yang lebih baik, mengingat ruas jalan Cacaban-Ungkal hingga Kalijambe merupakan lahan yang ditempati oleh tebing dan lereng curam. Sistem drainase yang buruk dapat meningkatkan air hujan yang menyusup (ilfitrasi) dan teruasn air di bawah permukaan.

Situs Kabuyutan Ungkal
Eyang Nayapatra, bersama leluhur lain seperti Mbah Puragati, Eyang Leube, dan Buyut Jerad atau disebut juga Uyut Jeran. Empat leluhur tesebut dianggap sebagai tokoh yang membuka lahan menjadi Desa Ungkal.

Di sebelah utaranya terdapat pemakaman umum, diantaranya tempat peristirahatan Eyang Kalis. Merupakan generasi ke-dua, dari empat kasepuhan Kabuyutan Ungkal. Dari Eyang Kalis, kemudian menurunkan generasi selanjutnya yang menjadi warga Ungkal saat ini. Kemudian sesepuh lainya diantaranya Eyang Gombak, Eyang Ranggit, kemudian di dekat bendungan adalah makam Eyang Rangga Haji.

Dari keterangan juru pelihara, lokasi situs ini diperkirakan merupakan titik pertemuan para pasukan Mataram. Sebelum diberangkatkan ke Mataram melalui Sumedang. Ungkal diperkirakan merupakan salah satu titik persinggahan, sebelum meneruskan menuju Wanayasa melalui Batusirap (saat in Cisalak Subang).

Keempat tokoh tersebut dikaitkan dengan serangan serangan Mataram abad ke-17, ke Batavia. Dari keterangan juru pelihara Kamal, keempat tokoh tersebut merupakan utusan pasukan Mataram, diperintahkan untuk menyerang VOC di Batavia, diceritakan bahwa serangan tersebut terjadi dua kali, 1628 dan 1629. Kedua serangan tersebut gagal, karena kurang baiknya daya dukung teknologi perang.

Situs Mata Air Keramat Dayang Sumbi
Berada sekitar satu kilometer dari Situs Makam Keramat Ungkal, ke arah timurlaut. Keberadaanya dikepung oleh kegiatan tambang, untuk penimbunan waduk Cipanas, di Ujungjaya. Sehingga sebagian besar lahannya telah mengalami degradasi, dan tidak ada tutupan hijau. Menandakan kegiatan tambang yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan. Meninggalkan tanggung jawab reklamasi, atau pemulihan kembali menjadi lahan hutan.

Tambang tersebut mengepung satu petak lahan situs budaya Dayang Sumbi, berupa sumber mata air. Luasnya tidak lebih dari 2,8 hektar, berupa lahan yang ditempati pohon tegakan tua. Dari keterangan Kamal, seringkali digunakan sebagai sarana mencari berkah bagi yang mempercayainya. Praktek ini diperkirakan telah ada, sejak abad ke-10 atau bahkan lebih tua. Seperti yang tertera di peta lama 1901, menggambarkan simbol makam muslim.

Kemunculan air tersebut diperkirakan merupakan dari endapan aluvium Kuarter. Keberadaan air tanah dangkal sangat bergantung pada porositas dan permeabilitas dari batuan penyusunnya, seperti batupasir atau endapan sedimen muda yang berperan sebagai akuifer. Struktur geologi, terutama sistem sesar seperti Sesar Baribis yang melintasi wilayah Subang, memegang peranan krusial dalam mengontrol pola aliran air tanah dan sering menjadi faktor penentu kemunculan mata air (Iswahyudi dkk., 2019).

Dari keterangan Kamal selaku Juru Pelihara Situs Kabuyutan Ungkal, memberikan gambaran sejarah situs ini. Dipercayai memiliki hubungannya dengan cerita rakyat Sangkuriang versi Ungkal yang ingin membuat danau, dengan cara membendung aliran (sungai) Ci Panas. Dalam prosesnya, Sangkurian memeriantahkan seekor burung sakti, untuk mengambil air di laut kidul. Kemudian air dibawa dalam batok kelapa, dibawa kembali ke Ungkal. Kemudian batok kelapan tersebut ditempatkan yang saat ini menjadi mata air Dayang Sumbi.

Airnya tidak banyak, dalam bentuk ceruk. Kamal menggambarkan jumlah airnya hanya tersedia sekitar tujuh gayung. Menandakan sumber mata air tanah dangkal, karena batuan penyusunnya adalah lempung. Sifat batuan lempung tidak bisa menyimpan dan meloloskan air, karena sifatnya kedap air. Kondisi permeabilitasnya buruk, sehingga di Ungkal sulit untuk mendapatkan air. Walaupun muncul, hanya di lapisan tipis, atau celah rekahan. Sehingga cadangan air tanah yang bisa dimanfaatkan relatif kecil, serta rentan terhadap penurunan muka air saat musim kemarau.

Ranca Ungkal
Di sebelah barat Desa Ungkal, didapati hamparan sawah. Menempati dataran rendah yang dikelilingi ketinggian perbukitan. Dari pengukuran umum, menggunakan alat bantu google maps,. Diperoleh ukuran kurang lebih 60 hektar, sebagian besar ditempati sawah warga.

Dari keterangan ibu tua bernama Oyi (68 tahun), waga kampung Ungkal. Menggambarkan bahwa sebagian besar sawah yang dikerjakan warga sekitar ini adalah awalnya rawa. Disebut dengan Ranca Depok, atau nama lain yaitu Nyalindung. Di sebelah baratnya didapati kolam yang dalam, membentuk lingkaran oval disebut Jobar. Dari keterangan lanjutan, menurut pa Asnen (80 tahun), jobar adalah kolam. Berbentuk memanjang relatif baratdaya-timurlaut, dengan panjang sekitar 183 meter, dan lebar 75 meter. Selalu berair, dan diperkirakan dalam. Sekitarnya berupa lumpur berwarna hitam dan sangat tebal.

Gambar di atas disandingkan dengan data lama, peta lama yang diproduksi kolonial Belanda. Topographisch Bureau, herzien in de jaren 1907-1908. Memberikan gambaran bentang alam pada abad ke-19. Desa Ungkal dipagari oleh tinggian perbukitan Panenjoan 280 mdpl. di sebelah utara. Kemudian di sebelah timurnya terdapat perbukitan Garijo 301 mdpl. ke arah selatannya dibatasi oleh Pasir Peusar 270 mdpl. Kemudian sebelah baratnya, berbatasan dengan Ci Panas, sungai yang mengalir dari selatan ke utara.

Ungkal menempati wilayah dataran rendah (aluvial). Pada peta lama tersebut rawa menempati sebagian besar wilayah rendah, sedang ke arah utaranya relatif lebih tinggi. Masyarakat menyebutnya ranca, atau rawa. Menandakan bahwa sebagian besar wilayah tersebut didominasi rawa. Pa Asnen menyebutkan bahwa di sebelah baratnya ditempati oleh lumpur berwarna hitam, menandakan sisa dari endapan rawa pada masa lalu. Berupa endapan lumpur tebal, sehingga masyarakat seringkali menghindari lokasi tersebut. Dianggap membahayakan, karena akan jatuh seperti terhisap oleh lumpur tersebut. Masyarakat menyebutnya jobar.

Selanjutnya masyarakat memanfaatkan air tanah dangkal rawa, dengan cara membuat pantek atau sumur. Kondisi rawa memungkinkan air tanah berada dekat permukaan, sehingga perlu di tarik ke permukaan. Digunakan menggunakan pompa listrik atau dengan cara manual, sehingga air dari bawah tanah bisa dimanfaatkan untuk pengairan sawah.

Situs Batukorsi Cipatat
Berada di Desa Sekarwangi, Buahdua, Sumedang. Keberadaanya di tepi batas antara sawah warga dan perbukitan. Dipotong oleh jalan kampung, membelah persawahan warga. Sebelah utaranya adalah jalan kabupaten, menghubungkan Conggeang ke Kota Sumedang.

Sawah sekitar Kampung Cipatat tumbuh subur, dialiri air dari beberapa sumber mata air melimpah. Muncul dari tinggian Pasir Cikapunduhan 869 mdpl. (Army Map Service, 1943), lereng utara G. Tampomas. Sebelah selatannya, mengalir Ci Kumutuk kemudian bergabung dengan Ci Panas di Ciasem. Desa ini merupakan pemekaran dari Cilangkap, 31 Januari 1981. Bila ditelusuri dari peta lama, Topographisch Bureau (1909), merupakan wilayah Lebaknaga. Berupa tekuk lereng G. Tampomas, dicirikan dengan perbukitan yang sedikit curam. Merupakan kawasan hutan yang masih lestari, sehingga menjadi media imbuhan yang baik.

Di sebelah timur kampung Cipatat, terdapat beberapa sumber mata air. Muncul diantara sela-sela batuan gunungapi. Mengalir mengikuti lereng bukit, kemudian jatuh ke irigasi. Sistem aliran air ini dibangun warga untuk menampung dan mengalirkan air ke sistem irigasi sawah. Lereng curam tersebut disusun oleh bongkah batuan beku, beragam ukuran dan bentuk. Diantaranya adalah bentuk yang menyerupai seperti kursi. Warga menyebutnya Batukorsi, dengan ukuran sekitar tinggi 2 meter. Berupa lava tebal, segmen dari bagian aliran lava tebal G. Tampomas.

Sekitar Batukorsi, muncul beberapa titik mata air. Menandakan dikendalikan oleh sistem mata air tanah dangkal. Kemudian di sebelah timur, terdapat sumber mata air dengan debit besar. Suhunya sama dengan kondisi temperatur di lingkungan sekitar, tetapi meninggalkan endapan berwarna kuning tua. Terbentuk karena kandungan zat besi (dan kadang mangan) yang terlarut dalam air tanah, lalu teroksidasi setelah bersentuhan dengan udara.

Keberadaan Batukorsi di lokasi kemunculan mata air ini, memberikan makna tentang kelestarian lingkungan. Kursi memiliki makna penguasaan, sehingga air harus diberikan haknya untuk terus mengalir.

Sesar Naik Cibuluh, Bukti Bumi Tidak Diam
Dari Desa Ungkal, kemudian bergerak ke arah utara. Melalui jalan utama yang menghubungkan Ujungjaya Conggeang, kemudian dari Pasar Ujungjaya berbelok ke arah utara menuju Cijelag. Dari sini kemudian bertemu dengan jalan poros Ujungjaya Cikamurang, jalan raya kelas provinsi. Sekitar Cipinangpait, kemudian berbelok memasuki jalan desa. Sekitar 2.5 km, atau 10 menit perjalanan akan tiba di Desa Cibuluh. Persis di balik hunian warga, didapati lahan kosong, sisa kegiatan tambang.

Warga menyebutnya blok Cibeusi, Cibuluh. Berupa lahan sisa kegiatan tambang batu dan pasir. Saat ini telah ditutup karena persoalan perizinan dan kelayakan persyaratan tambang yang belum terpenuhi. Sedikit berjalan kaki ke arah selatan, menyusuri jalan tanah. Tiba di lahan luas hasil penambangan, dicirikan dengan tebing-tebing yang terjal hasil pengerukan.

Terdapat dinding tegak hasil pematahan batuan, bagian dari deformasi tektonik. Berupa singkapan batuan berlapis naik terhadap blok sebelah utara. Pematahan pada batuan itu, disebut sesar naik segmen Cibuluh, Ujungjaya, Sumedang. Bagian dari sesar naik busur belakang Jawa Barat atau back arc thrust West Java.

Kehadiran bukti tersebut, memiliki potensi yang bisa dikembangakan sebagai situs tapak bumi. Bukti bahwa tektonik masih bergerak hingga kini, menghasilkan deformasi batuan. Sehingga keberadaanya harus dikonservasi, sebagai sarana pendidikan dan warisan bumi Sumedang.

Bongkah batuan beku Batukorsi
Mata air mengandung mineral besi tinggi
Sungai Cacaban, terdampak banjir
Situs Kabuyutan Ungkal
Batuan yang terpatahkan di Blok Cibuluh