Terjemahan dari artikel Indische Weekends, Naar Rantjabali. Ditulis oleh R.A. Reitsma, jurnalis dan dewan redaksi majalah mingguan Tropisch Nederland; veertiendaagsch tijdschrift ter verbreiding van kennis omtrent Nederlands Oost- en West-Indië. Terbit 20 Februari 1939. Tulisan ini menceritakan secara deskripsi, pengalaman penulis mengunjungi kawasan Ciwidey pada masa kolonial.

Di lain waktu, perjalanan kami dari Bandung menuju arah barat daya ke pasanggrahan Rancabali, di seberang Gunung Patuha. Idi, sopir kami yang berasal dari keturunan Sunda, sangat mengenal bagian pertama dari jalan ini, karena di sepanjang arena pacuan kuda Tegallega, jalan ini menyatu dengan jalan menuju dataran tinggi Pengalengan, tempat kami sering menghabiskan waktu liburan. Kami mengikuti lembah Ci Kapundung, sungai yang membagi Bandung menjadi bagian Timur dan Barat, melintasi pembangkit listrik tenaga uap Dayeuhkolot, menyeberangi Ci Tarum di sana, dan mengikuti lembah Ci Sangkuy.

Di Banjaran, kami singgah sejenak di rumah teman kami, pemerintahan daerah pribumi. Wedana dan Raden Ayu menyuguhkan obrolan yang hangat sambil menikmati secangkir teh yang lezat dan kue buatan sendiri. Biasanya ia masih memasukkan sepotong paha belakang babi hutan yang baru ditembak ke dalam mobil, agar kami tidak kekurangan persediaan makanan, meskipun kami meyakinkannya bahwa kami sudah membawa segala sesuatu yang dapat memuaskan perut di tengah hutan belantara. Saat akan berangkat, ia berlari sebentar ke telepon untuk menekankan kepada kepala desa Rancabali agar kami tidak kekurangan apa pun pada malam hari.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan melewati Soreang, mendaki lembah Ciwidey, melewati jalan cabang menuju perkebunan teh Gambung di Cisondari, lalu melintasi hutan belantara, kemudian melewati jalan ke Kawah Ciwidey di sebelah kiri, dan tiba di pasanggrahan Rancabali yang agak bobrok saat hari sudah gelap. Mandor sudah menanti kami di sana dengan hidangan makan malam yang lezat, nasi goreng, ayam, telur bebek asin, ikan kering, dan segala sesuatu yang bisa membuat hidangan malam itu nikmat. Tentu saja juga disertai bir dalam botol “Tjap Koentji”. Malam-malam di pasanggrahan seperti itu, di ketinggian 5.000 kaki (1524 mdpl), bisa terasa hangat dan akrab ketika kami duduk mengelilingi meja bundar setelah makan malam: istri saya, saya, sekretaris “Bandoeng Vooruit”, Tuan W. H. Hoogland, serta teman saya Theo Stufkens, yang saat itu masih menjabat sebagai redaktur pelaksana surat kabar harian Bandung, De Preanger Bode. Lampu minyak bumi itu kemudian memancarkan cahaya yang redup ke dinding-dinding yang gundul dan kosong, dan sama sekali bukan kemewahan bahwa kami sendiri yang menyediakan lampu bensin, sebuah “lampu badai”.

Lalu, saat cuaca di luar sangat dingin, berbagai cerita pun bermunculan. Hingga akhirnya kami tidak tidur terlalu larut agar bisa bangun pagi-pagi keesokan harinya, lalu menghilang ke kamar-kamar tidur kecil yang pintunya menghadap ke ruang tengah. Kadang-kadang, dari sana, percakapan bersama masih berlanjut sejenak, karena di pasanggrahan itu suaranya sangat nyaring. Hingga suatu saat terdengar suara dengkuran, menandakan bahwa salah satu anggota rombongan telah menyerah dan menarik diri dari percakapan. Pagi harinya, mereka sudah bangun sebelum fajar menyingsing, mandi dengan air sedingin es di kamar mandi, sarapan yang mengenyangkan, membayar kepada mandor yang ramah, lalu berangkat ke “suatu tempat”.

Idi yang mengendarai mobil sudah menunggu dengan tidak sabar, namun kadang-kadang kami justru berjalan-jalan terlebih dahulu di hutan-hutan yang masih perawan. Ada puluhan perjalanan indah di sana. Misalnya ke Telaga Patengan yang tenang, danau tempat Junghuhn pernah tinggal dalam waktu yang sangat lama. Perahu-perahu nelayan yang ramping melesat melewati rerumputan, dan sesekali terdengar letusan tembakan, saat seorang pemburu yang sendirian berusaha menangkap bebek atau burung meliwi/ Belibis polos (Dendrocygna javanica). Lalu ada juga perjalanan indah menuju lapangan kawah kecil Cibuni, di mana sebuah sungai kecil mengalir melintasi solfatara dan di mana uap belerang naik di antara dedaunan yang lebat. Di sini, kita harus melangkah dengan hati-hati, selangkah demi selangkah, agar tidak terperosok ke dalam lumpur mendidih. Di lain waktu, kami mengemudikan mobil kembali ke Kawah Ciwidey dan menyusuri jalan setapak hutan yang sempit menuju pondok hutan yang terbengkalai di dekat Kawah Putih, danau belerang berwarna kuning kehijauan, kadang-kadang putih susu, yang saat itu belum dieksploitasi.

Di sana selalu ada beberapa pendaki gunung, pecinta alam, yang tak tahan tinggal di kota; kadang-kadang Tuan Wormser, Dr. Stehn, ahli vulkanologi, Dr. Stapel, pustakawan saya Vermaat—hampir tak pernah orang asing. Bersama-sama kami kemudian mendaki ke kawah mati Gunung Patoeha, pada ketinggian lebih dari 7.000 kaki (2133.6 mdpl), dapat mengamati ke dalam lubang tak berdasar gunung berapi yang telah mati itu dan dari sana memandang Kepulauan Sunda dalam seluruh luasnya. Di utara, Laut Jawa berkilauan; di selatan, gelombang Samudra Hindia yang sepi terlihat pecah menjadi garis-garis busa putih di pantai yang curam. Di puncak Patuha, kesunyian yang sempurna memerintah, dan kita menikmati pemandangan paling megah yang bisa dibayangkan.

Sebuah jalur setapak yang sulit dilalui sendirian kemudian membawa kami kembali melewati Kawah Putih, dan karena sudah berminggu-minggu tidak ada pengunjung yang naik ke atas, jalur yang tertutup semak belukar di lereng gunung menuju Kawah Ciwidey harus dibuka dengan parang. Di Kawah Ciwidey, mobil sudah menunggu. Kami pertama-tama mengunjungi kawasan kawah, tempat yang mendesis dan mendidih, di mana awan uap membubung ke atas, dan di mana kami merebus telur dalam air yang mengalir perlahan. Tak jauh dari sana terdapat sebuah pondok yang sangat bagus, sebuah pasanggrahan yang nyaman, yang merupakan bagian dari perusahaan kina milik pemerintah Pangalengan, Cinyiruan, atau yang dikenal sebagai “Boschwezen” (dinas kehutanan masa kolonial, berkaitan konservasi). Untuk boleh bermalam di sana, Anda harus meminta izin terlebih dahulu kepada dr. Kerbosch. Secara umum, beliau tidak terlalu murah hati dalam hal ini. Namun, kami saling mengenal dengan baik, sehingga kadang-kadang kami berhasil mendapatkannya.

Dari Kawah Ciwidey, kami kemudian kembali melalui Soreang dan melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui Banjaran, kadang-kadang juga melalui Gajah, air terjun Curug Jompong di Ci Tarum, dan akhirnya melalui Cimahi menuju rumah. Biasanya kami sudah harus berjanji kepada wedana Banjaran untuk memilih rute pertama agar bisa mampir sebentar menemui dia dan istrinya—mereka tidak punya anak—untuk “mampir sebentar”. Namun, dari Rancabali juga ada rute indah lainnya yang bisa ditempuh. Dengan mobil, sehingga tidak perlu bersusah payah. Melewati sebuah perusahaan penebangan kayu besar dan perkebunan teh, kami pun tiba di air terjun yang indah, air terjun Citambur, mengalir dari dataran tinggi jatuh ke dasar jurang. Tak jauh dari sana, jalan itu berakhir—sekarang mungkin sudah diperpanjang. Tebing-tebing curam menurun ke dataran hijau Cianjur. Di Ci Tambur, biasanya kami mengadakan piknik. Di sekitar Rancabali terdapat banyak perkebunan teh dan kina. Kami menjalin hubungan baik dengan sebagian besar pengelola dan karyawan. Mereka secara rutin menghadiri pertemuan atau perayaan ulang tahun para pemilik perkebunan di Bandung. Saat itu selalu menjadi “perusahaan yang meriah”, untuk mengutip Schiller. Sebaliknya, kami pun selalu disambut dengan hangat di perkebunan-perkebunan tersebut.

Jadi, tidak selalu Pasanggrahan (penginapan) tempat kami bermalam, meskipun penginapan sederhana ini sangat kami sukai, karena kesunyian di sana begitu menenangkan. Di antara keluarga-keluarga pengusaha, yang paling diminati adalah mereka yang kepala keluarganya memiliki reputasi sebagai orang yang bisa “berbicara besar”. Cara “berbicara besar” ini sedemikian rupa sehingga mustahil dinikmati sepanjang malam. Untuk kunjungan singkat, hal itu masih bisa ditoleransi dan bahkan sangat menghibur. Kami sudah menantikannya sejak sebelumnya. Orang ini berasal dari keluarga sederhana, ayahnya adalah pengemudi kereta kuda di Den Haag. Tanpa basa-basi, sang putra mengumumkan bahwa ayahnya pernah menjadi kolonel kavaleri dan dari situlah kecintaannya pada kuda berasal.

Beberapa hari sebelum kunjungan kami, katanya, saat sedang duduk di depan meja kerjanya, ia berhasil menembak seekor harimau raja tepat di jantungnya dengan satu tembakan melalui jendela terasnya. Itu bahkan bukan cerita yang paling berlebihan.
Kebohongan-kebohongan romantis itu baru mulai terungkap ketika di tengah-tengah lingkaran itu ada yang berkomentar tentang pelana koboi yang tergantung di dinding. Sejenak kemudian, kami seolah-olah berada di padang rumput terbuka Amerika Selatan atau di padang rumput dekat Pegunungan Rocky, tempat ia pernah menjadi kepala suku yang ditakuti selama bertahun-tahun. Fenny-Moore Cooper, Gustave Aimard, dan Karl May pasti bisa belajar banyak dari sini. Saya masih ingat putra bungsu saya, yang ikut dalam salah satu perjalanan akhir pekan kami, tergelak-gelak mendengar begitu banyak omong kosong yang disajikan dengan penuh keyakinan.

Kami pun mendengarkannya dengan mulut ternganga! Namun, begitu kami kembali ke pasanggrahan Rantjabali atau ke Bandung, barulah keseruan bagi kami dimulai, dan berhari-hari setelah pulang, kami masih menikmati kebohongan-kebohongan yang disajikan dengan begitu penuh semangat. Cerita-cerita itu terus hidup di ruang tamu kami. Hingga kami merasa perlu seri baru dan memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan ke Rancabali pada Sabtu sore dan dari sana mencari tempat usaha yang dimaksud, yang tidak akan saya sebutkan namanya.