Antara Darangdan di bagian barat, ke Wanayasa di belah timur. Merupakan lereng yang melandai ke utara sekitar Purwakarta. Masuk ke dalam wilayah administrasi Darangdan, yang dibelah oleh beberapa sungai, diantaranya Ci Herang, Ci Kao, dan Ci Bingbin. Hulunya di sekitar perbukitan di Cileunca-Darangdan, alirannya bergerak ke utara. Sekitar Cikaobandung bertemu dengan outlet Ci Tarum, dam Jatiluhur.
Topografinya landai dari kaki Gunungapi Sunda-Tangkubanparahu, ke arah Purwakarta selatan. Diantara landaian tersebut didapati titik tinggi Pasir Kolecer, di Linggamukti, Darangdan. Titik tinggi untuk mengamati kawasan Jatiluhur yang dihiasi perbukitan intrusi yang menjulang tinggi menaungi waduk. Mendekati batas rest area Tol Cipularang, KM 97, didapati perbukitan yang melandai ke arah utara. Disebut Pasir Kolecer (kincir angin), Linggamukti. Tempat terbaik untuk menempatkan baling-baling dari bambu, karena perbukitan ini tempat terbuka. Pada musim tertentu, udara tekanan rendah dari utara, bergerak ke arah barat. Aliran udara inilah dimanfaatkan warga untuk berlomba kontes Kolecer.
Di tepi barat Tol Cipularang segmen Gununghejo, terlihat perbukitan runcing. Hadir dikelilingi sawah, dan lereng landai yang dipotong oleh sungai. Disebut Pasir Patenggeng, berupa perbukitan kerucut tegak. Disusun oleh batuan beku, berupa lava tebal. Diperkirakan merupakan leher gunungapi (vent), seiring waktu tererosi meninggalkan batuan yang lebih resisten.
Pembangunan jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang, dikerjakan sejak 2004 hingga selesai satu tahun kemudian. Disingkat menjadi Tol Cipularang, dengan ruas jalan 64,4 Kilometer. Merupakan proyek yang dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat.
Bergeser arah barat, sekitar Cileunca. Akhir abad ke-19, seiring menggeliatnya sistem transportasi udara kolonial Belanda. Dibangun sarana landasan pacu di sekitar Cipeundeuy, dengan call sign Cileunca. Digunakan sekitar tahun 1920-an, untuk pendaratan darurat militer atau penerbangan sipil. Mengingat teknologi kedirgantaraan kerajaan Belanda saat itu masih menggunakan teknologi awal. Jarak tempuh yang pendek, dan seringkali bermasalah.
Pasir Kolecer
Berupa puncak perbukitan di Kampung Pasir Kihiang, Linggamukti, Darangdan, Purwakarta. Terbuka ke segala arah, tanpa terhalang vegetasi. Masyarakat menyebutny Pasir Kolecer, karena dihiasi oleh baling-baling bambu atau kolecer. Tiang-tiangnnya tersusun rapih menempati sebagian besar lapangan seluas 500 meter persegi.
Kolecer merupakan khas tradisi di Sunda, berupa baling-baling bambu atau kincir angin. Dipasang pada tiang bambu, dengan tinggi bervariasi. Terbuat dari bambu, kemudian baling-baling nya menggunakan bahan kayu, seperti kayu waru, randu. Kemudian dibentuk menjadi beberapa bilah baling-baling, dengan menggunakan poros bambu. Fungsinya sebagai sarana mengusir hama pada kawasan persawahan, serta seringkali sebatas untuk kebutuhan hiburan. Penempatan kolecer ini biasanya pada ketinggian puncak perbukitan, dengan tujuan untuk mendapatkan tekanan angin.
Selain tiang-tiang kolecer, didapati saung-saung bambu. Sebagai sarana untuk fasilitas wisata. Ditempatkan di setiap tepi lapangan, menghadap ke segala arah. Digunakan oleh para pengunjung, sekedar menikmati pemandangan, sekaligus santap makanan. Pengelolaannya dilakukan oleh warga lokal, melalui karang taruna kampung Pasir Kihiang.
Perbukitan ini disebut juga Gunung Sembung, berupa tinggian perbukitan, memanjang barat timur. Ke arah utaranya berupa lereng terjal, dengan tinggi sekitar 400 meter, berupa drop off (gawir). Diantara tekuk lereng perbukitan ini, muncul beberapa anak sungai, diantaranya Ci Kandel, dan Ci Bodas hulunya berada antara Gunung Sembung, dan Gunung Patenggeng. Sebagian besar landaian tesebut ditempati sawah-sawah, dengan pola terasering. Mengikut kontur perbukitan, landai ke arah utara. Kedua sungai tersebut, bertemu dengan sungai Ci Bingbin. DAS Ci Tarum.
Dari ketinggian perbukitan Pasir Kolecer, dapat melihat ke segala arah. Di Sebelah utaranya terlihat lintasan jalan Tol Cipularang, membentang barat-timur. Jalan tersebut membelah kawasan Gunung Hejo. Dalam peta lama Batavia : Topographisch Bureau (1904), menuliskan Kramat Gunung Hedjo (Hejo) 521 mdpl. Kramat atau keramat, mengandung makna spiritual. Dalam beberapa laporan media, menceritakan sulitnya pembangunan jalan Tol di segmen ini. Diantaranya gangguan pengoperasian alat berat saat melakukan pembukaan jalan, hingga kesulitan dalam pengerjaan pengerukan. Dari sumber daring, menurut juru pelihara Gunung Hejo, Abah Mustopa (97 tahun). Jalur tersebut memiliki tingkat bahaya tinggi, selain kontur berupa perbukitan yang terjal. Pengendara mobil reguler, menyebutnya blind spot, atau titik buta. Terutama setelah melewati Gunung Hejo ke arah utara, sekitar KM 90 menjelang KM 100. Berupa turunan tajam dan berbelok tajam.
Di balik Gunung Hejo ke arah barat laut, terlihat perbukitan runcing. Bentang alam perbukitan intrusi sekitar Jatiluhur. Diantaranya terlihat kerucut G. Bongkok-Parang, kemudian beberapa kerucut yang lebih rendah. Diantaranya G. Sendanglengis, G. Miun, G. Aseupan, G. Puncak Gombong, G. Puncak dan G. Cilalawi. Sebagian perbukitan tersebut sudah ditambang, sehingga saat in menyisakan sebagian tubuhnya saja, seperti yang terjadi pada G. Cupu di sekitar Plered.
Dalam peta geologi lembar Cianjur (Sudjatmiko, 2003), ditafsir sebagai intrusi batuan beku (ha), berupa Andesite Hornblende dan Porfir Diorit Hornblenda.
Menuju lokasi masuk dari persimpangan jalan Raya Cikampek-Padalarang, sekitar Darangdan. Kemudian dilanjutkan menuju Desa Sadarkarya. Jalannya lebar, bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Kemudian di sekitar Kampung Pasir Kihiang, jalannya agak menyempit mengikuti jalan makadam hingga lokasi.
Dari keterangan warga, sebagian besar wilayah perbukitan di Linggamukti, jatuh kepemilikan swasta. Dikuatkan dengan plang yang berdiri, menjaga jalan masuk ke lapangan. Tertulis jelas pada papan plat besi, Tanah Milik PT. Bintang Karya Lestari. Menurut warga luasnya sebagian besar di perbukitan Pasir Kihiang, kemudian ke arah uttaran, hingga berbatasan dengan Desa Sadarkarya.
Lahannya mencakup sebagian besar Kampung Pasir Kihiang, dan sebagian Gunung Patenggeng di arah utaranya. Kepemilikan tersebut bertujuan untuk dibangun sarana fasilitas pariwisata, berupa waterboom. Warga menunjukan sumber air di sebelah utara, diantara lereng terjal Pasir Kolecer.
Gunung Patenggeng Intrusi atau leher gunugapi?
Melakukan perjalan dari Bandung ke Jakarta, melalui jalan Tol Cipularang. Sekitar KM 97 ke arah timur, terdapat bentuk kerucut. Berupa perbukitan yang timbul di antara sawah yang melingkarinya.
Disebut Gunung Patenggeng 557 mdpl. Bentuknya memanjang relatif arah selatan-utara, sejajar dengan lintasan Tol. Dari pengukuran menggunakan Measure Distance Map, didapat ukuran panjang sekitar 200 meter. Disusun oleh batuan beku yang terdeformasi.
Dari sisi sebelah selatan, bentuknya kerucut tajam. Tetapi bila dipandang dari arah lain, memanjang utara-selatan. Bentuk demikian memicu beda pendapat dalam menjelaskan asal-usul G. Patenggeng. Dalam peta lama Batavia : Topographisch Bureau, 1904. Dituliskan G. Patenggeng 557 mdpl. berdampingan dengan G. Semboeng (Sembung) di sebelah timur. Ke arah selatannya dipisahkan oleh lembah yang ditempati oleh sawah warga, berbatasan dengan lereng terjal Pasir Kihiang 617 mdpl.
Pendapat pertama menduga bahwa G. Patenggeng merupakan sisa dari diatrema gunungapi. Disebut volcanic neck atau leher gunungapi. Biasanya dicirikan bentuknya memanjang seperti pipa tegak, sisa dari vent (leher) setelah terkena erosi. Contohnya adalah gunungapi Ijo di sekitar pegunungan Kulon Progo, Jawa Tengah.
Pendapat kedua adalah kemungkinan intrusi dike (dyke), dicirikan dengan bentuk dan posisinya memanjang. Proses pembentukannya adalah intrusi magma yang membeku dekat dengan permukaan. Seiring waktu tersingkap, oleh proses erosi. Karena batuannya lebih keras (resisten), kemudian muncul G. Patenggeng seperti yang bisa disaksikan sekarang. Contoh kehadiran intrusi dike seperti di G. Manikoro, di Pacitan, Jawa Timur.
Keberadaan Gunung Patenggeng, pernah disebutkan dalam naskah tua. Dalam naskah menyebutkan 450 nama tempat geografis, utamanya adalah menuliskan 90 nama gunung. Naskah yang ditulis dalam media daun lontar, menggunakan aksara Sunda Kuno.
Ditulis dalam catatan perjalanan Bujangga Manik, sekitar abad ke-15 (16). Dalam perjalanan ziarah, panjang sebanyak dua kali. Beberapa tafsir menyebutkan bahwa Patenggeng yang dimaksud adalah Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Tetapi bila diselaraskan dengan kaitannya muncul cerita sasakala Sang Kuriang, bisa jadi yang dimaksud adalah G. Patenggeng di Darangdan. Purwakarta.
Dari beberapa sumber menyebutkan Sasakala Sang Kuriang, atau dikenal dengan legenda Sangkuriang. Dalam naskah hanya menuliskan tiga baris singkat, tentang perkawinan yang batal karena kesiangan.
“Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
Datang ka Bukit Patenggeng (tiba ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)”
Kontek dalam naskah tersebut bisa ditafsirkan upaya Sangkurian ingin membendung Ci Tarum, kemudian gagal karena kesiangan. Patenggeng disebut dalam naskah tersebut, menandakan memiliki arti penting dalam perjalan Tohaan dari Sunda ini. Di Setiap kunjungannya menunjukan bahwa di sekitar wilayah tersebut sudah ada kelompok keagamaan atau tempat suci yang dikenal dalam tradisi Hindu-Sunda di masa lalu. Sehingga catatan Bujangga Manik merupakan penghubung antara catatan sejarah dan legenda kepercayaan lokal.
Lapangan Terbang Cileunca
Desa Cileunca berada sekitar 4 km ke arah barat dari Gunung Patenggeng, Berupa desa di bawah administrasi Kecamatan Bojong, Purwakarta. Secara geografis berada di lereng sebelah utara G. Burangrang, dengan tinggi sekitar 750 mdpl.
Lahannya relatif datar dan luas, sehingga layak untuk digunakan landasan pendaratan pesawat udara pada saat itu. Di sebelah timurnya dibatasi oleh Ci Kao, bagian dari DAS Ci Tarum. Kemudian di seblah selatannya dibatasi tinggi Pasir Puspa Nenggeng. Kemudian sebelah timurnya berupa jajaran perbukitan Pasir Madang yang berbatasan langusng dengna Ci Kao.
Keberadaan lapangan terbang ini dilaporkan dalam buku Departement Van Gouvernementsbedrijven Bureau Luchtvaart Civil Aviation Sector Bandoeng (Java) Atlas van De Vliegvelden, Landingsterreinen En Watervlieg-Kampen Ten Behoeve Van Het Burgerluchtverkeer In Nederlandsch-Indië. 1931. Yaitu buku panduan yang diterbitkan sektari 1931, dikeluarkan oleh departemen operasi pemerintah kolonia, biro penerbangan sipil. Landasan pacu ini dibangun untuk pendaratan darurat pesawat sipil dan militer.
Pembuatan lapangan udara ini bertujuan dalam rangka pertahanan udara, dan digunakan dalam kondisi darurat. Mengingat menjelang masa persiapan perang Asia Pasifik, pemerintah Kolonial Belanda mulai menyusun strategi pertahanan. Termasuk pembangunan lapangan-lapangan terbang darurat di beberapa tempat. Satu-satunya sumbe dokumen, diterbitkan het Departement Van Gouvernementsbedrijven Bureau Luchtvaart Civil Aviation.
Dalam laporan tersebut menggambarkan peta dan denah lokasi. Di Purwakarta, dibangun landasan udara Tjileuntja (Cileunca), dengan klasifikasi untuk pendaratan darurat pesawat militer. Pada saat itu wilayahnya masuk ke Krawang (Karawang), kemudian dimekarkan menjadi wilayah Purwakarta. Di jalan masuk ke lahan, didapati plang informasi. Berbunyi, Tanah Milik TNI AU Cileunca, Komandan Operasi Udara I Pangkalan TNI AU Suryadarma. Luasnya 124.000 M2, milik Departemen Pertahanan (Dephan).
Elevasi lapangan udara 650 mdpl, dengan jarak terdekat ke kota Plered sekitar 15 km, sertan 26 km ke statsiun Purwakarta melalui jalan raya penghubung Cileunca melewati Darangdan – Sagalaherang.
Panjang lapangan 800 meter, dan lebar 150 meter. Berarah northwest-southwest, atau barat laut – tenggara. Landasannya dialasi rumput, tanpa penggunaan tarmac atau beton.
Diduga kondisi landasannya sangat sederhana, kemungkin dilengkapi dengan menara pemanduan udara lokal. Tanpa dilengkapi lampu landasan atau fasilitas lainya, layaknya lapangan terbang. Dari keterangan seorang warga, di sebelah selatannya, terdapat beberapa bangunan umum. Diantaranya rumah sakit, gereja dan beberapa kuburan yang diperkirakan milik orang Belanda. Namun saat ini keberadaanya sudah hilang, termasuk gereja. Sedangkan kuburannya masih bisa ditemui di sekitar lapangan kantor Desa Cileunca.
Lapangan tersebut sebagian besar dimanfaatkan untuk perkebunan warga, berupa perkebunan rumput Gajah (Pennisetum purpureum). Tanaman yang digunakan sebagai pakan ternak seperti sapi, kambing dan domba. Lahannya berupa dataran luas, sebagian besar merupakan lahan pertanian swasta yang dikelola warga lokal.

