Menapaki Tagogapu seperti memutar kembali sejarah lama. Satu-satunya gambaran wilayah ini didekatkan dengan kegiatan tambang kapur, sudah ada sejak masa kolonial. Keberadaan pabrik pengolahan dan tambang kapur tersebut saat ini pudar seiring waktu. Meninggalkan bayangan kejayaan di ingatan masyarakatnya, di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Satu-satunya petunjuk sisa kejayaan masa lalu, tercermin pada sisa bangunan tua di tepi jalan. Berupa potongan bagian muka pabrik Kalkbranderij Panendjoan. Pabrik pengolah kapur di Tagogapu sejak masa kolonial, kini hanya menyisakan sebagian bangunan. Dikenali dengan tulisan Panendjoan, melekat pada dinding bangunan. Sisa dari kejayaan perusahaan pengolah kapur pribumi, menjadi pengingat di tepi jalan Tagogapu penghubung Padalarang-Purwakarta. Puncak kejayaannya terjadi pada 1920 hingga 1925, untuk memenuhi kebutuhan kapur tohor untuk industri. Diantaranya untuk kebutuhan industri gula (suikerfabriek) yang tumbuh pesat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Digunakan untuk pemurnian nira, agar hasil gula tampil putih dan cerah. Kebutuhan sanitasi, untuk desinfektan alami pada tangki air, jamban, mencegah penyebaran penyakit menular. Kemudian digunakan pada industri konstruksi dan bangunan, sebagai perekat/plester, dan cat tembok bangunan.
Industri tambang dan pengolahan kapur berkembang pesat, seiring pembangunan jalur kereta api koridor barat melalui Halte Tagogapu. Sehingga distribusi hasil produksi kapur tohor bisa dilakukan secara cepat, langsung dikirim melalui jaringan kereta api lintas Jawa.
Berkah alam Tagogapu dimulai sejak 28 juta tahun yang lalu. Berupa laut dangkal yang ditempati oleh terumbu karang. Seiring waktu terangkat hingga 650 mdpl, seiring aktivitas tektonik antara 5-2 juta tahun yang lalu. Lahirlah perbukitan karst yang memanjang relatif baratdaya timurlaut. Dari sebelah barat di Saguling, hingga ujung tepinya di Pasir Cikamuning. Reef front, atau zona terluar dari sebuah ekosistem terumbu karang yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Ke arah timur Tagogapu adalah lautan dalam.
Sebagian besar wilayah Tagoapu, kondisi alamnya didominasi oleh batuan karbonat. Pada peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 2003). Disusun oleh Anggota Bantugamping Formasi Rajamandala. Berupa batugamping tebal (pejal), sampai batugamping berlapis. Dicirikan dengan hadirnya foraminifera besar, dan keberadaannya melimpah. Umur batuannya Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, sekitar antara 23 hingga 28 juta tahun yang lalu. Sedangkan ke arah timur, disusun oleh produk Gunungapi Tua Umur Kuarter. Dengan tebal hingga 150 meter. Berupa breksi, lahar dan lava. Tersingkap dengan jelas di sebelah utara, dari Halte Tagogapu. Berupa dinding perbukitan Pasir Cikur 598 mdpl. Terbuka oleh kegiatan tambang, di Cempakamekar, Cipatat. Berupa dinding tetak, berupa endapan gunungapi berlapis-lapis. Diperkirakan merupakan produk dari kegiatan letusan G. Sunda-Tangkubanparahu. Diendapkan berlapis, melalui mekanisme jatuhan (fall deposit) atau aliran (flow deposit).
Endapan berlapis gunungapi ini, merupakan informasi sejarah letusan gunungapi di masa lalu. Dengan demikian, bagi para ahli gunungapi bisa digunakan sebagai petunjuk aktivitas letusan G. Sunda-Tangkubanparahu dimasa lalu. Sehingga data tersebut bisa digunakan sebagai dasar pemetaan potensi risiko bencana di masa depan.
Saat ini endapannya berupa bongkah hingga ukuran pasir yang mudah lepas. Sehingga sebagian besar wilayah ini dimanfaatkan untuk kegiatan tambang galian c, batu dan pasir. Bentang alamnya tergambar jelas, bilamana disaksikan dari arah jalan Tol Cipularang, saat mendekati jembatan Cikubang. Jajaran perbukitan karst di sebelah barat, bersulam dengan endapan gunungapi Sunda-Tangkubanparahu di Pasir Cikur.
Melacak kembali keberadaan pabrik-pabrik pengolahan batu kapur, dilihat dari catatan kolonial Belanda. Diantaranya melalui beberapa siaran berita di harian umum. Salah satunya adalah dampak yang terjadi akibat penambangan. Dalam harian umum Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1920, no. 4, Terbit tanggal 22 Januari 1920. Melaporkan keluhan warga, akibat dampak kegiatan tambang kapur berupa banjir lumpur. Memasuki musim hujan, mengakibatkan terbawanya material halus, hingga ke hilir. Menyebabkan beberapa petak sawah, lahan pertanian dan rumah warga rusak digerus aliran lumpur. Selain itu diperparah dengan tertutupnya saluran gorong-gorong ke pembuangan Ci Meta. Kondisi demikian memperlihatkan penataan kegiatan tambang yang buruk, sehingga menyebabkan dampak buruk bagi warga sekitar.
Masa perintisan industri pengolahan kapur di Tagoapu, hadir setidaknya sejak
Kaart der Residentie Preanger Regentscahpen, tahun 1884. Dalam peta tersebut menggambarkan beberapa tempat pembakaran kapur atau kalkbranderij. Digambarkan dengan simbol Kaklbrij atau Krb. Di Tagogapu, salah satu peloprornya adalah pengusaha lokal dan keturunan Tiongoa, melalui usaha Kalkbranderij Berg.
Di artikel De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel, jrg 34, 1911, no. 40, 03-10-1911. Perusahaan Terbuka Pabrik Kapur Berg di Bandung. (Javasche Courant tanggal 22 Agustus 1911 no. 67). Modal: ƒ60.000, terbagi dalam 120 saham masing-masing senilai /500. Direktur: Ang Sioe Tjiang, wakil direktur-administrator: Mas Aksan, komisaris: Tjoe Tjin Kie. _ Tujuan: pengambilalihan, pendirian, dan pengoperasian pabrik kapur serta perdagangan kapur. Masa berlaku: 50 tahun.
Menelusuri kembali keberadaan sebaran pabrik pengolahan kapur, dilihat dari peta-peta lama. Bila merujuk kepada peta Belanda awal, tahun 1902. Menggambarkan posisi pabrik kapur dengan simbol K.br atau Kalkberij. Fasilitas kelas industri untuk pengolahan kapur (pembakaran, pengolahan dan pencampuran), dari bongkah batuan menjadi abu.
Seperti yang disampaikan oleh Hodijah (87 tahun), ibu rumah tangga yang lahir dan besar di Tagogapu. Menggambarkan suasana lingkungan tambang pada pascakemerdekaan. Jelang perebutan objek vital dan perusahan dari tangan Belanda ke Indonesia, sebagian besar perusahaan tambang dikuasai pribumi dan keturunan tionghoa. Ekonomi lokal tumbuh, seiring dengan berkembangnnya permintaan kapur tohor.
Kapur olahan atau kapur tohor, adalah bahan pembantu utama dalam pemutihan kualitas akhir gula. Hadir sejak 1900, berkembang di Jawa Timur. seiring denga tumbuhnya pabrik gula tebu. Diantaranya Pabrik Gula Kalibagor tahun 1839, menggunakan kapur olahan sebagai agen penjernih. Seiring waktu dikenal metode sulfitasi, seperti yang digunakan oleh Pabrik Gula Tasikmadu, sejak 1871. Tujuannya sama, digunakan untuk pemurnian yang lebih efektif.
Selain tambang kapur, keberadaan lahan di sekitar Tagogapu kurang subur. Akibat disusun oleh batuan karbonat, menyebabkan sulit untuk ditanami jenis hortikultura. Salah satu peluang yang bisa dikembangkan dari sektor pertanian saat itu, adalah ladang singkong. Sumber informasi Tijdschrift voor economische geographie; orgaan der Nederlandsche Vereeniging voor Economische Geographie, jrg 12, 1921, no. 5, 1921. Mewartakan de bekende cassavefabriek van Sastradipoera te Tagog-Apoe werkt met 30 arbeiders. Usaha pengolahan tepung dari singkong, pabrik singkong terkenal milik Sastradipoera di Tagog-Apoe mempekerjakan 30 pekerja.
Untuk pengembangan usahanya, termasuk kemudahan distribusi. Mas Sastradipoera, seorang produsen tapioka kaya, bermaksud membangun rumah batu di dekat stasiun, khususnya untuk membantu Pemerintah, agar dapat digunakan sebagai kantor pos. Keberadaannya sekitar sebelah timur, dari Halte Tagogapu. Namun saat ini telah menjadi hunian warga.
Saat ini aktivitas pabrik tambang dan pabrik pembakaran kapur, bergeser ke Citatah. Kondisi demikian, Pasir Cikamuning keberadaanya lebih lestari, jauh dari pengerukan tambang. Kondisi demikian perlu ditetapkan status hukumnya, agar perbukitan tersebut tidak hilang. Seperti perbukitan Karst Citatah yang kini sebagian telah hilang oleh kegiatan tambang.


